P2LD LIPI sosialisasi kegempaan di Desa Morela

P2LD LIPI sosialisasi kegempaan di Desa Morela

P2LD LIPI sosialisasi pengetahuan kegempaan dan mitigasi bencana di kegiatan penyaluran bantuan tanggap darurat bersama Perum LKBN Antara Biro Maluku kepada warga Desa Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (5/10/2019). ANTARA/Shariva Alaidrus/am.

Bumi setiap saat selalu mengeluarkan energi, saat bumi mengeluarkan energi itu terjadilah gempa,
Ambon (ANTARA) - Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mensosialisasikan pengetahuan kegempaan dan mitigasi bencana kepada warga Desa Morela, Kecamatan Leihitu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu.

Digelar di balai desa setempat, sosialisasi tersebut merupakan rangkaian pelaksanaan penyerahan bantuan tanggap darurat gempa Ambon oleh Perum LKBN Antara Biro Maluku, sebagai bagian dari program besar BUMN Hadir Untuk Negeri.

Baca juga: Perum Antara Maluku serahkan bantuan kepada korban gempa Ambon

Humas LIPI Rory Dompeipen, Peneliti P2LD Fahreza Sasongko dan Dosen Jurusan Teknik Geologi Universitas Pattimura Ambon Zain Tuakia dihadirkan sebagai narasumber sosialisasi kegempaan dan mitigasi bencana di Desa Morela.

Fahreza Sasongko dalam kesempatan itu mengatakan Indonesia adalah titik pertemuan tiga lempeng bumi, yakni Eurasia, Indo-Australia dan lempeng Pasifik sehingga membuat wilayahnya berpotensi mengalami gempa bumi.

Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi belum bisa mengindetifikasi secara tepat kapan gempa akan terjadi dan di mana lokasinya.

"Bumi setiap saat selalu mengeluarkan energi, saat bumi mengeluarkan energi itu terjadilah gempa, ada yang besar dan ada yang tidak terasa," ujarnya.

Kendati berbahaya, kata Fahreza tidak semua gempa bumi bisa menyebabkan bencana. Karena itu, gempa tidak perlu ditakuti.

Baca juga: BMKG sebut 144 gempa terjadi pascagempa Maluku

Gempa bisa berpotensi tsunami apabila terjadi di bawah laut dengan mekanisme patahan naik dan mendatar, magnitudo di atas 7,0 dan durasi gempa lebih dari 20 detik.

"Gempa itu bahaya tapi belum tentu menjadi bencana. Tidak semua gempa berpotensi tsunami, longsor yang terjadi di bawah laut justru mempercepat terjadi tsunami, dalam lima menit bisa ada tsunami," jelasnya.

Senada dengan Fahreza, Dosen Jurusan Teknik Geologi Zain Tuakia menyatakan karena gempa belum bisa diprediksi dengan tepat, masyarakat harus tangguh dan siap menghadapinya, yakni dengan meningkatkan kemampuan mitigasi bencana.

"Kita tidak tahu kapan tepatnya gempa itu terjadi, tapi kalau kita siap terhadap gempa maka tidak akan terlalu panik. Misalnya terjadi gempa dan tidak sempat lari keluar, kita bisa berlindung di bawah meja yang jauh dari kaca dan perabot-perabot besar," lanjut Zain.

Menurut dia, masyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa haruslah membangun bangunan berkonstruksi tahan gempa, menempatkan perabot sesuai dengan bobotnya, yakni tidak meletakkan barang-barang berat seperti bufet dan lemari besar di atas lantai satu.

Hal yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi bencana adalah mempelajari jalur-jalur evakuasi, juga menyiapkan tas siaga berisi baju, senter dan nomor-nomor penting yang bisa dihubungi.

"Gempa tidak membunuh tapi bangunan yang roboh bisa membunuh. Kita juga harus mengingatkan anak-anak agar mereka paham evakuasi mandiri, saat gempa terjadi mereka tahu apa yang harus dilakukan," jelas Zain.

Baca juga: Pengungsi gempa Ambon mulai terserang penyakit

Pewarta: Shariva Alaidrus
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tujuh jasad korban gempa Palu kembali ditemukan

Komentar