Penghalau nyamuk SR tekan endemisitas malaria di NTT

Penghalau nyamuk SR tekan endemisitas malaria di NTT

Peneliti utama sekaligus Site Principal Investigator di Indonesia Profesor Syafruddin dari Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Jakarta, memaparkan hasil penelitiannya di Jakarta, Selasa(8/10/2019). ANTARA/Aditya Ramadhan

Jakarta (ANTARA) - Alat penghalau nyamuk bernama "Spatial Repellent (SR)" yang diuji klinis oleh peneliti asal Indonesia dan Amerika Serikat menunjukkan hasil penurunan angka endemisitas malaria di Sumba Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Peneliti utama sekaligus "Site Principal Investigator" di Indonesia Profesor Syafruddin dari Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Jakarta, Selasa, mengungkapkan bahwa hasil uji klinik nyamuk SR di Indonesia ini memiliki potensi untuk menambah manfaat proteksi

Tim peneliti gabungan dari LBM Eijkman dan Universitas Notre Dame AS, mengemukakan bahwa data dari hasil uji klinis di Indonesia yang dirancang untuk menelaah efek repelen spasial dalam mengurangi infeksi Malaria menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Hasil studi pada kelompok desa yang diacak dengan endemisitas malaria dari nol hingga sedang mengalami penurunan infeksi Malaria pertama sekitar 28 persen. Sementara kelompok desa acak dengan endemisitas rendah sampai sedang mengalami penurunan hingga sekitar 41 persen.
Baca juga: 424 Kabupaten di Indonesia Ditetapkan Endemis Malaria
Baca juga: Penajam Paser Utara masih endemis malaria


Uji klinis dilakukan di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya Provinsi Nusa Tenggara Timur. Studi ini bertujuan untuk mengukur penurunan risiko infeksi Malaria dengan menggunakan Spatial Repellent (SR). Uji klinis SR di Indonesia juga merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya pada tahun 2014 untuk membuktikan konsep mengenai penggunaan SR.

Hasil penelitian yang dilakukan di Sumba, Indonesia ini, tidak hanya menggembirakan dalam kaitan nilai kesehatan masyarakat dari SR tetapi juga menjadi bukti untuk mendukung investasi selanjutnya pada penelitian sejenis di bidang penyakit tular vektor, misalnya Malaria dan Dengue serta termasuk Zika.

LBM Eijkman dan Universitas Notre Dame AS berkolaborasi dengan perusahaan SC Johnson untuk mengembangkan produk repelen spasial atau produk penghalau nyamuk.
Baca juga: Banten Masih Dinyatakan Endemis Malaria
Baca juga: 10 Daerah di Kalbar Masih Endemis Malaria


Berbeda dengan produk repelen topikal yang dioleskan langsung ke kulit, repelen spasial dirancang untuk melepaskan senyawa aktif ke udara untuk menghalau nyamuk sehingga kontak manusia dan nyamuk terputus.

"Senyawa yang dilepaskan dari repelen spasial akan membuat nyamuk kebingungan dan kehilangan kemampuannya untuk mendeteksi manusia dan mencari darah," kata Syafruddin.

Alat repelen spasial hanya berupa lembar plastik transparan yang mengandung senyawa. Apabila lembaran plastik tersebut dibuka, senyawa akan tersebar ke udara di dalam rumah dan memengaruhi nyamuk.

Lembar plastik yang bisa ditempel di dinding tersebut bisa mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah, atau nyamuk berada di dalam rumah tapi tidak bisa mendeteksi manusia, dan menghambat gigitan nyamuk.

Hingga saat ini bentuk alat repelen spasial masih dikembangkan oleh para peneliti. Beberapa formula (bentuk) baru repelen spasial yang diharapkan memberikan perlindungan lebih lama serta lebih ramah lingkungan sedang diuji di laboratorium LBM Eijkman.
Baca juga: 12 kabupaten di di Papua Barat masih endemis malaria
Baca juga: Dinkes Lebak Waspadai Penyakit Malaria


Lubang-Lubang Tambang Picu Endemis Malaria

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar