Kuliah lapangan Fisipol UMP analisis pascabencana karhutla-kabut asap

Kuliah lapangan Fisipol UMP analisis pascabencana karhutla-kabut asap

Analisis program Kuliah Lapangan Fisipol UMP yang diikuti 170 mahasiswa dengan menghadirkan pejabat BMKG, BPBD, dan Dinkes Kota Palangka Raya di Auditorium Fisipol lt.3 Gd Rektorat UMP, Jumat (11/10/2019). ANTARA/Lab.Komunikasi Fisipol

Palangka Raya (ANTARA) - Sebanyak 170 mahasiswa program kuliah lapangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (Fisipol UMP) melakukan kegiatan analisis fenomena pascabencana kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap berkepanjangan di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah selama periode Agustus-Oktober 2019.

Analisis aspek penyebab dan dampak pascabencana karhutla dan kabut asap yang berlangsung di Auditorium Fisipol lt.3 Gd Rektorat, Jumat, menghadirkan pejabat dari tiga organisasi pemerintahan terkait yaitu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya.

Kuliah lapangan domain keilmuan Administrasi Negara Fisipol UMP tersebut dengan fokus hubungan antarorganisasi dan Kelembagaan Negara, dalam menjalankan fungsi “intervensi” dalam persoalan yang tidak dapat diatasi secara mandiri oleh warga negara.

Kasi Data dan Informasi BMKG Kota Palangka Raya, Anton Budiyono,SP,M.Si di hadapan ratusan mahasiswa Fisipol UMP menyampaikan fenomena perubahan iklim baik itu El Nino dan La Nina, kondisi cuaca sepanjang tahun, titik-titik api, arah angin yang menyebabkan kabut asap.

Bencana kabut asap berkepanjangan menyelimuti di Kota Palangka Raya dan sejumlah kabupaten di Provinsi Kalteng itu berpotensi berlanjut dan terulang dari fenomena iklim dan rendahnya potensi hujan.

Sementara Kasi Pecegahan dan Penanggulanan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Fransika,SKM,M.MKes menjelaskan mengenai dampak kesehatan atas bencana karhutla dan k abut asap.

Baca juga: Rektor, mahasiswa, karyawan UMP padamkan kebakaran lahan gambut

Penggunaan masker bagi setiap warga Kota Palangka Raya saat beraktivitas di luar ruangan terbuka merupakan cara jangka pendek untuk menghindari dari resiko gangguan kesehatan.

Untuk antisipasi berulangnya bencana karhutla dan kabut asap, Pemerintah Kota Palangka Raya mulai merancang konsep penyediaan ruangan yang tahap terhadap kabut asap.

“Konsep ruangan tahan asap itu diterapkan pada fasilitas umum, sekolah, perkantoran dan rumah tempat tinggal warga,” ucap Fransika pada kegiatan kuliah lapangan yang dipandu dosen Fisipol UMP Kandidat Doktor Novianto Eko Wibowo, S.Sos,M.AP dan Tim Pendamping Nova Rianti,S,Sos, Desy Susilawaty,S.Sos, dan Triwik Puji Rahayu,S.Sos,M.AP.

Baca juga: Status tanggap darurat karhutla Palangka Raya berakhir

Sedangkan pejabat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, Damai,SH menyatakan antisipasi dan mitigasi bencana kalhutla telah dilakukan dan capaiannya terbatas hingga dampak bagi masyarakat tidak bisa dihindarkan.

“Berbagai upaya telah dilakukan, dan membawa mahasiswa untuk menjadi relawan serta bagian dari masyarakat peduli api. Tapi karhutla yang menyebabkan kabut asap tetap berlangsung berkepanjangan,” ucapnya.

Secara bersamaan 19 mahasiswa Fisipol UMP kelompok kuliah lapangan luar negeri saat ini masih melakukan observasi dan analisis fenomena hubungan administrasi lintas negara seperti fenomena pekerja migran Indonesia bermasalah yang sedang menjalani proses di Negara Bagian Johor Bahru, Malaysia, dan hubungan administrasi negara bidang produksi pertanian Negara Thailand yang di Inonesia sangtat dikenal seperti “jambu Bangkok, ayam Bangkok, dan lainnya".

Baca juga: Kalteng tak perpanjang status tanggap darurat bencana
Baca juga: BNPB tetapkan status Kalteng-Riau tanggap darurat kebakaran hutan


Pewarta: Muhammad Yusuf
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar