LIPI: SDM unggul mampu kuasai kemajuan iptek

LIPI: SDM unggul mampu kuasai kemajuan iptek

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko (tengah), Chief Director STEPI Deok Soon Yim (kanan) dan Senior Research Fellow di STEPI Youngrak Choi (kiri) berbicara dalam konferensi pers terkait lokakarya Indonesia Science, Technology and Innovation (STI) Policy and Governance Practices and Foreseeing Indonesia's Future di Gedung LIPI, Jakarta, Selasa (22/10/2019). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Kita ingin menciptakan supaya SDM yang tangguh itu muncul, karena tidak cukup disekolahkan sajaa,
Jakarta (ANTARA) - Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan dengan penguasaan sumber daya manusia (SDM) unggul maka bangsa akan mampu menguasai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta inovasi sehingga mampu mendorong Indonesia mencapai kemajuan ekonomi.

"Jadi bukan karena punya ini itu, terus kita punya science and technology (iptek), tidak begitu. Kita punya orangnya yang bisa berperan di science and technology, itu yang paling penting," kata Handoko dalam lokakarya Indonesia Science, Technology and Innovation (STI) Policy and Governance Practices and Foreseeing Indonesia's Future di Gedung LIPI, Jakarta, Selasa.

Lokakarya ini diadakan oleh LIPI bekerja sama dengan Science and Technology Policy Institute Korea Selatan.

Menurut Handoko, kapabilitas SDM adalah kunci utama untuk mencapai kemajuan iptek. Jika tidak ada SDM unggul maka tidak mungkin iptek dapat berkembang dan menjadi pendongkrak kemajuan bangsa.

Baca juga: LIPI tunggu keputusan pemerintah terkait posisi lembaga riset dan BRIN

Handoko menuturkan ketertinggalan Indonesia dibanding Korea Selatan memang harus diakui karena Korea Selatan lebih dulu gencar berinvestasi pada pembangunan kapabilitas SDM, iptek dan inovasi, sementara pada saat yang sama Indonesia belum sampai membentuk SDM yang memadai untuk mendukung pengembangan iptek.

Namun, makin ke sini pemerintah Indonesia makin berfokus pada penguatan SDM iptek seperti yang juga disampaikan dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

"Kita ingin menciptakan supaya SDM yang tangguh itu muncul, karena tidak cukup disekolahkan saja, kalau SDM untuk science and technology (iptek), tapi harus ada 'learning by doing'-nya (praktik), artinya kita harus membuat tempat, harus membuat ekosistem bagus termasuk dari sisi industri. Itu sebabnya ada 'tax deduction' (pengurangan pajak) untuk memotivasi, memberikan insentif dan sabagainya agar industri lebih terlibat di science and technology (iptek)," tuturnya.

Chief Director STEPI Deok Soon Yim mengatakan pada tahun 60-an atau 70-an, Indonesia dan Korea Selatan berada pada level yang sama, namun saat ini Korea Selatan mampu bergerak lebih maju karena investasi pada iptek dan inovasi.

"Pada awalnya, Indonesia dan Korea berada di level yang sama pada tahun 60-an dan 70 an, dan Indonesia adalah negara yang lebih kaya dari Korea, 10 kali lebih kaya. Salah satu alasan kenapa Korea bisa lebih maju adalah investasi dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi," ujar Deok Soon Yim.

Deok Soon Yim menuturkan saat ini ada perubahan yang lebih baik di Indonesia yakni beberapa tahun belakangan ini, pemerintah Indonesia lebih menekankan pada inovasi.

Menurut rencana pembangunan nasional, Indonesia sedang berusaha mengubah ekonominya dari negara berbasis pertanian menjadi negara berbasis inovasi.

Menurut Deok Soon Yim, menjadikan negara berbasis inovasi tidaklah mudah, yang mana dalam praktiknya sangat sulit. Apalagi sekarang menuju pasca revolusi industri 4.0, maka negara dituntut untuk dapat beradaptasi dengan masa ini, jika tidak maka akan tertinggal. Untuk itu, penguasaan iptek dan inovasi menjadi kunci untuk memajukan ekonomi bangsa dan meningkatkan daya saing.

Senior Research Fellow di STEPI Youngrak Choi menuturkan jika Indonesia memiliki kapabilitas SDM dan iptek serta inovasi yang kuat, maka itu adalah kunci untuk pembangunan Indonesia.

Youngrak Choi mengatakan berkaca pada perkembangan Korea yang pesat dengan pencapaian yang besar, maka pendorong utama kemajuan itu adalah sains dan teknologi.

"Tanpa sains dan teknologi, Korea tidak bisa berkembang," tuturnya.

Bahkan usai revolusi industri 4.0 segera datang, negara-negara mengalami tantangan untuk dapat berdaya saing dan bergerak maju, dan itu semua dapat dilakukan jika memiliki kekuatan iptek yang maju.

Youngrak Choi mengatakan kemampuan lokal yang kuat di bidang iptek akan menjadi modal utama penggerak pertumbuhan ekonomi, dan itu seharusnya menjadi basis dalam mencapai kemajuan daya saing bangsa. Negara-negara dapat maju karena mereka mampu menguasai dan mengembangkan iptek.

Baca juga: LIPI siapkan platform terbuka mungkinkan publik lakukan riset
 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pameran sains tingkatkan kreatifitas anak bangsa

Komentar