Leni Robredo siap pimpin perang terhadap narkoba di Filipina

Leni Robredo siap pimpin perang terhadap narkoba di Filipina

Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan pasangan hidupnya, Honeylet Avanceña, menghadiri upacara pembukaan KTT ke-35 ASEAN di Bangkok, Thailand, Minggu (3/11/2019). ANTARA/REUTERS/Athit Perawongmetha/tm

Manila (ANTARA) - Wakil Presiden Filipina Leni Robredo pada Rabu menerima tawaran Presiden Rodrigo Duterte untuk memimpin perang terhadap narkoba, meskipun ia memperkirakan akan mendapat penentangan dari pemerintah yang akan berupaya menghambat program kerjanya.

Presiden Duterte menantang Leni untuk memimpin gerakan antinarkoba setelah dia menyampaikan kritik terhadap petinggi Filipina itu dalam sebuah wawancara dengan Reuters. Hubungan Duterte dan Leni memang tidak terlalu akur. Kedua sosok itu terpilih sebagai presiden dan wakil presiden dalam proses terpisah.

"Meskipun tawaran jabatan ini bermuatan politis, dan badan pemerintah terkait mungkin tidak menuruti instruksi saya, bahkan mereka akan berbuat apa pun untuk menggagalkan saya, saya akan menanggung seluruh risikonya hanya untuk menyelamatkan setidaknya satu nyawa yang tidak bersalah, karena prinsip hidup dan nurani saya berkata demikian. Saya harus mencoba menjalani tantangan ini," kata Leni dalam acara jumpa pers.
 

Wakil Presiden Filipina Maria Leonor 'Leni' Robredo berbicara dalam wawancara dengan Reuters di Quezon City, Metro Manila, Filipina, 23/10/2019. ANTARA/REUTERS/Ronn Bautista/tm 


​​​​​​​Leni (54) merupakan satu dari banyak pihak yang mengkritisi cara keras Duterte memberantas narkoba. Menurut mereka, kebijakan keras Duterte berhasil meningkatkan citranya di hadapan publik tapi tidak terlalu berdampak pada tingkat perdagangan narkoba ataupun jumlah pengguna. 

Beberapa mitra politik Leni menyarankan dia  agar tidak mengambil tawaran Duterte, karena bagi mereka posisi tersebut merupakan jebakan untuk membuat sang wapres Filipina terlihat gagal di hadapan publik.

Duterte menjadi sosok yang sangat populer di Filipina karena dia mengabaikan protes warga dunia terhadap kebijakan kerasnya memberantas narkoba. Menurut sejumlah pegiat hak asasi manusia, kebijakan keras Duterte tersebut meliputi eksekusi yang dilakukan secara sistematis serta upaya oleh kepolisian menutupi penembakan terhadap ribuan warga sipil, yang diduga pecandu atau pengedar narkoba. 

Walaupun demikian, kepolisian menolak dugaan tersebut.

Sumber: Reuters
​​​​​​​
Baca juga: Presiden Duterte tantang wapres ambil alih penegakan hukum

Baca juga: Jajak pendapat: warga Filipina puji perang narkoba Duterte

Baca juga: PBB akan selidiki pembunuhan dalam perang narkoba di Filipina

 

Presiden Filipina Kunjungi Pasar Tanah Abang

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar