Unja dirikan Pusat Studi ASEAN

Unja dirikan Pusat Studi ASEAN

Direktur kerja sama sosial budaya ASEAN Riaz Saehu dan Dekan Fakultas Hukum Unja melakukan penandatangan nota kesepahaman pusat studi ASEAN. (ANTARA/Muhamad Hanapi)

Jambi (ANTARA) - Universitas Jambi mendirikan pusat studi Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) yang ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman dengan Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri.

“Penandatanganan nota kesepahaman merupakan satu babak baru kerja sama kedua lembaga yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Riaz Saehu di Jambi, Kamis.

Dengan berdirinya pusat studi ASEAN tersebut diharapkan dapat mendorong pengembangan kajian mengenai ASEAN di Unja, khususnya pada isu lingkungan hidup dan utamanya pada penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Isu tersebut dirasa tepat diangkat di Unja, kata Riaz, karena Jambi merupakan salah satu daerah yang cukup parah terdampak Karhutla.

“Secara khusus diharapkan dapat meningkatkan pemahaman kepada masyarakat tujuan berdirinya ASEAN,” katanya.

Baca juga: Rektor Unja terpilih aklamasi jadi Ketua BKS Rektor PTN barat

Baca juga: KY jelaskan Kode Etik Hakim ke mahasiswa Unja


Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Unja Helmi mengatakan dengan berdirinya pusat studi ASEAN, maka pusat studi tersebut harus di isi dengan berbagai aktifitas, salah satunya yang berkaitan dengan sosial budaya.

“Salah satu tujuan berdirinya pusat studi ASEAN ini agar lebih kuat memberikan pemahaman kepada masyarakat apa itu ASEAN Community,” kata Dekan Fakultas Hukum Unja Helmi.

ASEAN memiliki tiga pilar, yakni ASEAN Political Security Community, ASEAN Social Cultural Community dan ASEAN Economic Community. Dari tiga pilar tersebut, pusat studi ASEAN Unja akan fokus dalam pilar ASEAN Social Cultural, utamanya dalam penanggulangan Karhutla.

Di mana Karhutla pada beberapa waktu yang lalu memiliki dampak negatif yang cukup besar, yakni terjadinya kabut asap yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Kabut asap dari Karhutla tersebut melintas ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.*

Baca juga: Rektor Unja : Presiden sampaikan langkah ideal pembangunan

Baca juga: Dewan: Mahasiswa jangan mudah terbawa kabar hoaks


Pewarta: Muhammad Hanapi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar