BMKG catat 159 kali gempa susulan Jailolo-Malut

BMKG catat 159 kali gempa susulan Jailolo-Malut

Gempa (ilustrasi) (1)

Manado (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Stasiun Geofisika Winangun, Kota Manado, mencatat sebanyak 159 kali gempa susulan hingga pukul 11.00 WITA pascagempa utama di Jailolo, Maluku Utara, Jumat dini hari.

"Masih terjadi gempa-gempa susulan," kata Staf Operasional Stasiun Geofisika Winangun, M Juang di Manado, Sabtu.

Gempa-gempa susulan yang terjadi, kata dia, terjadi di sekitar gempa utama.

Baca juga: 110 kali gempa bumi susulan terjadi di Laut Maluku
Baca juga: Terjadi gempa susulan, warga Jailolo masih alami trauma


"Gempa susulan dengan skala minimum magnitudo 3,1, sementara skala maksimum magnitudo 6,1. Sebanyak sembilan gempa susulan di antaranya dirasakan," ujarnya.

Dia berharap, masyarakat tetap tenang dan tidak cepat mempercayai berita-berita atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Jangan cepat percaya berita hoaks, tetap tenang dan teruslah berkoordinasi dengan pemerintah," katanya.

Baca juga: BMKG catat 74 aktivitas gempa susulan pascagempa M 7,1 di Malut
Baca juga: Gempa susulan terjadi di Jailolo, Magnitudo 5,3


Dia berharap, masyarakat terus mengikuti informasi yang dikeluarkan BMKG ataupun melalui kanal-kanal informasi resmi yang dikeluarkan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memutakhirkan gempa Jailolo, Provinsi Maluku Utara yang sebelumnya magnitudo 7,4 menjadi 7,1.

Gempa yang terjadi pukul 23:17:43 WIB tersebut terjadi di lokasi 1.67 LU, 126.39 BT atau kira-kira 137 kilometer Barat Laut Jailolo-Maluku Utara pada kedalaman 73 kilometer.

Gempa tersebut dirasakan IV-V MMI di Kota Bitung, Kota Manado dan Ternate, II MMI di Buol, Sulawesi Tengah.

Baca juga: BMKG catat 28 gempa susulan pascagempa Magnitudo 7,1 di Malut
Baca juga: BMKG catat 17 gempa susulan pascagempa Magnitudo 7,1 di Malut

Pewarta: Karel Alexander Polakitan
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

12 pendeteksi tsunami buatan BPPT gantikan yang lama

Komentar