Ulama Palestina dorong masyarakat beri bantuan usai serangan di Gaza

Ulama Palestina dorong masyarakat beri bantuan usai serangan di Gaza

Ketua Ikatan Ulama Diaspora Palestina di Asia Tenggara, Ahed Abul Atha (kanan), memberikan keterangan pers mengenai kondisi masyarakat di Gaza usai serangan Israel, di Jakarta, Senin (18/11/2019). (ANTARA/Suwanti)

Jakarta (ANTARA) - Ulama diaspora Palestina menyerukan kepada masyarakat dan lembaga kemanusiaan, khususnya di Indonesia, untuk memberikan kepedulian dan bantuan lebih bagi rakyat Palestina di Gaza setelah serangan dua hari pada pekan lalu yang dilancarkan oleh Israel.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Senin, Ketua Ikatan Ulama Diaspora Palestina di Asia Tenggara, Ahed Abul Atha, menyebut bahwa kebutuhan rakyat Palestina akan bantuan dari dunia menjadi lebih besar setelah terjadi serangan tersebut.

"Kami meminta kepada rakyat dan lembaga kemanusiaan di Indonesia untuk memberikan perhatian, khususnya kepada wilayah Gaza yang terlebih akan memasuki musim dingin. Tentu tidak masalah jika punya logistik, tetapi rakyat di sana tidak mudah mendapatkannya sejak diblokade," ujar Ahed.

Di bawah situasi blokade, Ahed mengklaim bahwa lembaga-lembaga yang pro terhadap Israel terus memberikan bantuan berkelanjutan, untuk itulah perhatian dan bantuan kepada masyarakat di Palestina amat dibutuhkan untuk melawan dalam keadaan tersebut.

Konflik Gaza selama dua hari pada pekan lalu dimulai dengan serangan pada Selasa (12/11) dini hari oleh pihak Israel di distrik Shujaiya, Jalur Gaza, sehingga menewaskan pemimpin kelompok militan Jihad Islam, Baha Abu Al-Atha dan istrinya.

Dilansir dari Reuters, tim medis resmi di Gaza melaporkan bahwa serangan yang dilakukan beruntun dalam dua hari itu memakan korban jiwa sebanyak 34 orang, yang setengahnya merupakan masyarakat sipil.

Indonesia menyatakan kecaman keras atas penyerangan itu dan menyerukan semua pihak untuk melakukan deeskalasi, seperti diungkap oleh Pelaksana Tugas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah pada Minggu (17/11).

Pada Kamis (14/11), pejabat resmi Mesir dan Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menengahi pihak Palestina dan Israel untuk melakukan gencatan senjata yang menurut Faizasyah, "Hal ini diharapkan dapat menghentikan penyerangan terhadap warga sipil yang tidak bisa dibenarkan atas dasar apapun."

Namun bagi Ahed yang kini tinggal di Malaysia itu, walaupun ada gencatan senjata, masih akan ada perjuangan dari rakyat Palestina "sampai terwujud tujuan meraih kemerdekaan" sekalipun disertai kemungkinan-kemungkinan serangan lebih lanjut dari Israel.

Pewarta: Suwanti
Editor: Azis Kurmala
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia tentang AS soal permukiman Israel di Tepi Barat

Komentar