Gubernur BI jelaskan empat faktor penyebab inflasi rendah

Gubernur BI jelaskan empat faktor penyebab inflasi rendah

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (3/1/2020). ANTARA/Astrid Faidlatul Habibah/am.

stabilnya nilai tukar rupiah dan cenderung apresiasi membuat barang-barang dalam negeri atau yang diimpor itu rendah
Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebutkan bahwa ada empat faktor yang menyebabkan rendahnya laju inflasi Indonesia pada 2019 yaitu sebesar 2,72 persen (year on year/yoy) serta inflasi inti 3,02 persen.

“Begini, ada empat faktor kenapa inflasi kita itu rendah. Termasuk kenapa inflasi inti itu juga rendah,” katanya di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat.

Perry menyebutkan faktor pertama adalah adanya kapasitas produksi yang jauh lebih memadai daripada permintaan pasar sehingga dapat terpenuhi.

Ia mengatakan bahwa permintaan pasar memang naik namun kapasitas produksi mampu memenuhi jadi tekanan harga dari sisi permintaan menjadi sangat rendah.

“Kalau istilah teknisnya disebut kesenjangan outlook atau outlook gap. Outlook gapnya itu masih negatif,” katanya.

Baca juga: BPS: inflasi 2019 terendah dalam 20 tahun terakhir

Faktor kedua adalah adanya koordinasi kebijakan antara pemerintah pusat, daerah, dan BI dalam menjaga pasokan dan keterjangkauan harga pangan sehingga kelompok "volatile food" turut rendah.

“Sejumlah barang komoditas deflasi seperti bawang merah, lalu cabai naik sedikit tapi tidak begitu naik. Hampir seluruh komponen bahan makanan mengalami inflasi rendah bahkan mengalami deflasi,” katanya.

Faktor ketiga adalah stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tercatat apresiasi pada 2019 yaitu sebesar 2,68 persen menjadi Rp13.880 per dolar AS.

Baca juga: BPS sebut harga terkendali tahan inflasi 2019 di 2,72 persen

Perry menuturkan nilai tukar rupiah yang stabil menyebabkan tekanan harga dari eksternal dan global menjadi sangat rendah serta tidak signifikan sehingga harga barang yang diimpor lebih murah.

“Tentu saja stabilnya nilai tukar rupiah dan cenderung apresiasi membuat barang-barang dalam negeri atau yang diimpor itu rendah,” ujarnya.

Faktor terakhir yaitu ekspektasi harga-harga komoditas ke depan dari para ekonom, konsumen, dan produsen yang masih terjaga rendah.

Baca juga: Data inflasi 2019 dirilis, IHSG ditutup melemah

Indeks kepercayaan konsumen (IKK) pada Desember meningkat menjadi 124,4 dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 123,7.

Selain itu, indeks ekspektasi penjualan enam bulan ke depan juga mengalami peningkatan dari 154,3 menjadi 156,1 pada Desember 2019.

“Secara keseluruhan ini menunjukkan kegiatan sektor ekonomi riil geliatnya meningkat baik dari sisi konsumsi sebagaimana terindikasi di indeks konsumen maupun di penjualan riil,” katanya.

Baca juga: Ini besaran penyesuaian tarif Tol Jagorawi sesuai inflasi

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Biayai defisit fiskal, Bank Indonesia beli Surat Utang Negara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar