IHSG pekan depan diprediksi masih dibayangi virus corona

IHSG pekan depan diprediksi masih dibayangi virus corona

Pengunjung beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/2/2020). ANTARA FOTO/Reno Esnir/hp

Melihat potensi kekhawatiran virus corona  pada pekan depan, kami perkirakan IHSG akan kembali terkoreksi
Jakarta (ANTARA) - Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan ke depan masih akan dibayangi sentimen virus corona.

"Melihat potensi kekhawatiran virus corona  pada pekan depan, kami perkirakan IHSG akan kembali terkoreksi," ujar Hans di Jakarta, Minggu.

Baca juga: BEI: Pekan pertama Februari IHSG tumbuh positif, ini indikatornya
Baca juga: IHSG akhir pekan menguat, namun belum tembus 6.000


Dilaporkan jumlah korban meninggal akibat wabah corona di China sebanyak 636 orang dan angka orang yang terkena infeksi sebanyak 31.161 orang. Pasar mulai khawatir dampak kerusakan ekonomi akibat wabah virus corona.

"Negara dengan perdagangan besar dengan China pasti akan terganggu ekonominya akibat karantina yang mengganggu rantai pasokan global akibat banyak pabrik China tutup. Pasar akan mencermati perkiraan dampak virus corona terhadap perekonomian China dan global," ujar Hans.

Berita utama pekan lalu adalah meredanya kekhawatiran virus corona. Kantor berita  Reuters memberitakan media TV China menyatakan tim peneliti yang dipimpin Profesor Universitas Zhejiang Li menemukan bahwa obat Abidol dan Darunavir dapat menghambat virus corona. Hal tersebut masih dibantah oleh WHO yang mengatakan belum ada terapi efektif terhadap virus 2019-nCoV.

Selain itu, diberitakan bahwa ilmuwan Inggris mampu membuat terobosan signifikan untuk menemukan vaksin dengan mengurangi waktu pengembangan normal virus dari dua hingga tiga tahun menjadi hanya 14 hari.

Pasar juga positif akibat bank sentral China melakukan beberapa stimulus untuk mendorong perekonomian dengan menurunkan bunga reverse repo untuk menambah likuiditas pasar.

Bunga reverse repo 7 hari turun 10 basis poin dari 2,50 persen menjadi 2,4 persen dan suku bunga 14 hari dipangkas dari 2,65 persen menjadi 2,55 persen.

Selain itu, People's Bank of China (PBoC) juga menyuntikkan dana 1,7 triliun yuan atau sekitar 242,74 miliar dolar AS melalui operasi pasar terbuka dan akan menggelontorkan ratusan miliar dolar AS lagi ke dalam sistem keuangan pekan ini.

PBoC juga memangkas suku bunga pinjaman utama serta persyaratan cadangan perbankan (RRR) dalam beberapa pekan mendatang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dari kawasan Eropa, fokus pasar selain virus corona adalah perundingan perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa. Kedua belah pihak menetapkan posisi negosiasi yang berbeda pada hubungan di masa mendatang, menyiapkan kemungkinan hambatan dalam pembicaraan perdagangan, serta beberapa area yang kompromi dapat dilakukan.

Sejak Brexit dimulai dengan Inggris keluar dari Uni Eropa pada pukul 11 malam Jumat pekan lalu dan sekarang Inggris memulai periode transisi 11 bulan, kedua belah pihak berharap bisa mencapai kesepakatan perdagangan dalam periode yang relatif pendek.

Negosiasi diperkirakan terlihat akan sulit setelah Menteri Luar Negeri Inggris akhir pekan lalu mengatakan Inggris "tidak akan mengikuti aturan Uni Eropa" dalam setiap perjanjian perdagangan pasca-Brexit.

Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar memperingatkan kedua belah pihak untuk tidak membuat "garis merah" yang kaku menjelang perundingan.

"Negosiasi ini akan cukup sulit menemukan kesepakatan karena proses Brexit terkesan dipaksakan dan berlangsung sangat cepat. Konsekuensi yang terjadi adalah peluang perlambatan ekonomi kawasan Eropa dalam beberapa tahun ke depan," kata Hans.

Pekan lalu juga diwarnai berita positif yakni China mengumumkan akan mengurangi setengah tarif impor AS senilai 75 miliar dolar AS.

Kementerian Keuangan China melakukan pemotongan untuk membalas keputusan Amerika bulan lalu yang juga melakukan pengurangan setengah tarif produk-produk China senilai 120 miliar dolar AS.

Tarif beberapa barang AS akan dipotong dari 10 persen menjadi 5 persen, dan dari 5 persen menjadi 2,5 persen dan hal itu akan mulai berlaku efektif pada 14 Februari 2020. Keputusan itu dibuat sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan fase pertama antara China dan AS.

"Kesepakatan itu positif bagi pasar karena mengurangi kekhawatiran dampak perang dagang AS-China yang menekan pertumbuhan global. Presiden Donald Trump mengatakan perjanjian fase kedua akan tercapai di kemudian hari. Hal ini akan menjadi perhatian pasar setelah wabah virus corona berlalu," ujar Hans.

Baca juga: Persepsi investor terhadap ekonomi positif, IHSG dibuka menguat

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

IHSG menguat ikuti naiknya bursa dunia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar