ICRP: Jangan jadikan wabah COVID-19 bahan untuk menebar hoaks

ICRP: Jangan jadikan wabah COVID-19 bahan untuk menebar hoaks

Prof Siti Musdah Mulia. (ist)

Jadi jangan selamanya beranggapan ‘ah terserah Tuhan saja’ tidak bisa seperti itu, Ini yang banyak orang salah paham. Bahkan ada yang mengatakan bahwa corona ini juga ciptaan Tuhan, iya memang ciptaan Tuhan tetapi kita sebagai manusia juga harus bisa
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Siti Musdah Mulia meminta masyarakat tidak menjadikan wabah COVID-19 sebagai bahan olok-olok untuk menebar kebencian dan hoaks di media sosial.

"Saya selalu mengatakan tolong jangan menjadikan wabah corona itu semacam olok-olokan atau semacam cara untuk menebar kebencian, permusuhan. Meskipun kita membenci seseorang, tapi tolong jangan menggunakan wabah atau pandemi ini sebagai alat untuk balas dendam, untuk mencaci-maki atau membangun permusuhan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, dengan adanya wabah ini seharusnya merenung ‘apa yang salah dengan diri kita, apa yang salah dengan keluarga kita’ selama ini. Dengan hal tersebut tentunya harus berupaya untuk mengoreksi diri, mengevaluasi diri agar bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Baca juga: Kemenkominfo dorong pranata humas berperan tangkal hoaks COVID-19

"Karena kalau kita ini mengakui sebagai makhluk yang berguna, makhluk yang bermartabat, mari kita semua menghindarkan diri dari menyebarkan berita hoaks atau berita palsu, berita dusta atau berita-berita yang mengandung kebencian dan permusuhan terhadap sesama. Karena itu perlihatkanlah bahwa kita ini adalah manusia yang beradab," tutur Musdah.

Karenanya menurut Musdah penting bagi semua untuk bersama-sama membangun solidaritas untuk menguatkan satu sama lain, meningkatkan sikap positif dan berprasangka baik.

"Misalnya, kita dengar berita bahwa si Anu positif terpapar corona, oh tidak apa-apa yang penting berobat yang baik dan ikut anjuran untuk istirahat, berdoa lebih banyak lagi, perkuat solidaritas dengan keluarga dan sebagainya’. Jadi dukungan keluarga itu juga sangat penting,” ujar wanita pertama yang pernah dikukuhkan LIPI sebagai Profesor Riset bidang Lektur Keagamaan ini.

Selain itu menurut Musdah, daya tahan atau imunitas tidak hanya tubuh dengan makan makanan yang baik dan bergizi, juga imunitas sosial harus ditingkatkan dengan membantu sesama umat manusia jika ada yang tidak mampu sehingga membentuk solidaritas untuk saling menguatkan antar-sesama.

Musdah juga mengatakan penting untuk mengedukasi masyarakat dalam berperilaku di tengah bencana wabah COVID-19 ini, seperti imbauan untuk jaga jarak atau physical distancing, cuci tangan, menggunakan masker dan sebagainnya. Dengan edukasi diharapkan masyarakat dapat terbangun kesadarannya.

Baca juga: Kominfo pertimbangkan SMS untuk tangkal hoaks corona

Ia mengharapkan para tokoh agama dan tokoh masyarakat turut serta untuk memberikan edukasi tersebut sehingga membangun solidaritas kepada umat ataupun warganya.

"Karena itu diperlukan tokoh atau influencer, yang bisa mempengaruhi kelompoknya. Jadi harus bisa memberikan contoh konkrit yang dia bicarakan dan dia juga praktikkan. Misalnya, dengan mengatakan ‘demi menjaga situasi menjadi lebih kondusif saya tidak ke mana-mana, saya tetap di rumah’. Jadi ya dia tinggal di rumah tidak keluyuran di luar," ucapnya menegaskan.

Peraih Doktoral bidang Pemikiran Politik Islam di IAIN Jakarta ini juga berpendapat bahwa "kita sebagai manusia juga harus selalu melakukan ikhtiar, karena Tuhan hanya akan mengubah nasib seseorang atau sekelompok masyarakat kalau orang atau masyarakat itu mengubah perilakunya sendiri".

"Jadi jangan selamanya beranggapan ‘ah terserah Tuhan saja’ tidak bisa seperti itu, Ini yang banyak orang salah paham. Bahkan ada yang mengatakan bahwa corona ini juga ciptaan Tuhan, iya memang ciptaan Tuhan tetapi kita sebagai manusia juga harus bisa menggunakan akal pikiran untuk menjauhi musibah itu," tutur Musdah.

Untuk itulah Musdah mengingatkan bahwa janganlah mempertaruhkan nama Tuhan untuk hal-hal yang konyol seperti, misalnya, mengatakan ‘ini adalah takdir Tuhan’ tanpa kita melakukan upaya-upaya untuk mengatasinya.

Baca juga: Tangkal hoaks, Kemenko Polhukam gandeng Perum LKBN ANTARA

Pewarta: M Arief Iskandar
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Polda Papua pastikan tak ada perampasan amunisi oleh KKB

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar