Jakarta (ANTARA News) - Alat utama sistem senjata Kontingen TNI di Lebanon Selatan, siap untuk diperiksa kelaikannya untuk mendukung misi perdamaian PBB di wilayah itu.

Perwira Penerangan Kontingen Garuda XXIII-C/UNIFIL Letkol Arh Hari Mulyanto dalam surat elektroniknya kepada ANTARA News di Jakarta, Senin mengatakan, PBB menetapkan kesiapan alat utama sistem senjata masing-masing negara yang tergabung dalam misi di Lebanon Selatan sebesar 75 persen.

"Jika rata-rata kesiapan alat utama sistem senjata di bawah 75 persen, maka PBB menganggapnya tidak layak untuk digunakan dalam misi perdamaian PBB," katanya, usai gelar perlengkapan Konga XXIII-C yang meliputi kendaraan tempur, kendaraan administrasi dan perlengkapan kemarkasan yang lain.

Ia mengatakan, PBB akan melakukan pemeriksaan rutin terhadap setiap alat utama sistem senjata negara-negara yang tergabung dalam misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan.

Pemeriksaan oleh tim COE (Contingent Owned Equipment) tersebut dilakukan setiap tiga bulan sekali.

Bagi negara penyumbang pasukan di PBB atau TCC (Troops Contributing Countries) yang menggunakan sistem wet lease seperti Indonesia, COE merupakan kegiatan yang harus dipersiapkan, karena apabila ada salah satu peralatan yang dinyatakan tidak siap pakai maka akan berpengaruh terhadap reimbursement (pembayaran kembali).

Disamping itu tim PBB akan memberikan penilaian apakah Satgas dinyatakan siap atau tidak untuk melaksanakan operasi penjaga perdamaian di Lebanon Selatan di bawah UNIFIL.

Dalam kegiatan pra-COE yang dilakukan secara marathon, Kasi 4/Logistik Konga XXIII-C, Mayor Inf Jones Sasmita penanggung jawab kesiapan alutsista dan material Satgas mengatakan, Konga XXIII-C siap diperiksa tim PBB.

Pengecekan awal terhadap kondisi alutsista dan material Satgas dimaksudkan untuk mengetahui sedini mungkin kondisi alat tersebut, sehingga apabila ada kekurangan dan ketidaksiapan segera dapat diperbaiki. (*)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009