Teheran (ANTARA News/AFP) - Seorang ulama Iran yang berpengaruh, Jumat mengatakan beberapa staf lokal kedutaan besar Inggris akan diadili atas tuduhan menghasut kerusuhan pasca pemilihan presiden.

"Dalam insiden-insiden ini, kedubes mereka terlibat, beberapa orang ditahan. Biasanya mereka akan diadili, mereka telah mengaku," kata Ahmad Jannati, ketua Dewan Wali Iran seusai shalat Jumat.

Seluruhnya sembilan staf lokal ditahan akhir bulan lalu tetapi pemerintah Inggris mengatakan tujuh orang kini telah dibebaskan, sementara televisi pemerintah Iran mengatakan hanya seorang yang masih ditahan.

"Kami cemas dan kami akan mengecek laporan-laporan itu," kata juru bicara Kantor kementerian luar negeri Inggris. "Ini adalah prioritas utama kami untuk menjamin pembebasan semua staf kedubes."

Iran menuduh para karyawan kedubes itu menghasut kerusuhan dalam unjukrasa yang meletus menyangkut terpilihnya kembali Presiden Mahmou Ahmadinejad dalam pemilihan presiden baru-baru ini. Para lawannya mengatakan terjadi kecurangan dan ketidak beresan yang luas.

Inggris membantah tuduhan-tuduhan terhadap kedubes itu sebagai tidak beralasan.

Jannati, yang dekat dengan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan seorang pendukung kuat Ahmadinejad, mengatakan "musuh-musuh" negara telah bersekongkol untuk melakukan "revolusi beledru" di republik Islam ini.

Khmenei menyebut Inggris, yang hubungannya dengan Iran tidak baik, sebagai musuhnya yang "paling jahat."

Negara-negara Uni Eropa (EU) akan mempertimbangkan satu usulan dari Inggris untuk memanggil pulang semua duta besar mereka dari Teheran sebagai protes dan Swedia yang memimpin EU, Kamis mengatakan organisasi yang beranggota 27 negara itu siap melakukan tindakan" jika staf itu tidak dibebaskan.

Bulan lalu , Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Moaki mengatakan Iran mungkin menurun tingkat hubungannya dengan Inggris setelah kedua pemerintah itu saling mengusir diplomat. Teheran juga mengusir koresponden radio BBC dan menahan seorang wartawan Yunani Inggris.

Akar dari saling tidak percaya itu berawal dari tahun 1800-an ketika Iran, yang dulu bernama Persia terperangkap dalam persaingan penjajahan antara Rusia dan Inggris.

Pada tahun 1953, perdana menteri Mohammad Mossadegh yang nasionalis disingkirkan dalam satu kudeta yang direkayasa CIA dengan dukungan para aparat intelijen Inggris setelah ia menasionalisasi perusahaan mmnya Anglo-Iranian oil company, pelopor British Petroleum.

Hubungan diplomatik kedua negara putus ketika missi Inggris diTeheran ditutup tahun 1980 setelah pasukan khusus Inggris menyerbu kedubes Iran di London untuk mengakhiri penyanderaan.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009