Jakarta (ANTARA News) - PT Indonesia Power (IP) dan PT Pembangkit Jawa Bali (PJB), dua anak perusahaan PT PLN (Persero), diperkirakan bisa merealisasikan rencana penawaran saham perdana (IPO) 2010 mendatang.

"Kami perkirakan baru terlaksana tahun 2010, setelah utang PLN kepada kedua perusahaan itu selesai," kata Direktur Utama PLN, Fachmi Mochtar, di Jakarta Rabu.

Menurut Fachmi, saat ini manajemen sedang membahas konsep IPO, mulai dari nilai dana yang bisa ditarik, hingga kepastian pembayaran utang PLN kepada anak perusahaan itu.

"Harus ada persiapan yang matang untuk menentukan jumlah saham IP yang akan dilepas. Belum dapat dipastikan, namun PLN ingin tetap mayoritas di IP," katanya.

IPO IP sesungguhnya sudah dirancang sejak tiga tahun lalu dan bahkan telah menunjuk konsultan yaitu Credit Suisse First Boston (CSFB).

Menurut Fachmi, utang PLN kepada anak perusahaan itu sekitar Rp10 triliun.

Informasi lain menyebutkan utang PLN kepada IP sekitar Rp18 triliun.

Dana IPO dua anak perusahaan PLN rencananya akan digunakan untuk membangun sejumlah pembangkit terkait program pembangkit 10.000 MW.

Sebelumnya Menneg BUMN Sofyan Djalil menjelaskan, IPO anak perusahaan dimaksudkan untuk ikut dalam menggarap proyek 10.000 MW.

"Dengan dana IPO diharapkan IP dapat menggarap proyek 10.000 MW tahap kedua, minimal setengahnya," ujar Sofyan.

Menurut Fachmi, tahun ini perseroan akan mematangkan studi IPO kedua anak perusahaan itu, sehingga jika suatu saat kondisi pasar modal bagus maka go public segera direalisasikan.

Saat ini IP mengelola sejumlah pembangkit antara lain PLTU Suralaya berkapasitas 3.400 MW, sedangkan PJB mengelola sejumlah pembangkit di Jawa dan Bali dan memasok engeri bagi induknya, PLN.
(*)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009