Ada Sinyal Seluler di Ladang Bawang Namboru

Ada Sinyal Seluler di Ladang Bawang Namboru

Jakarta (ANTARA News) - Panas terik matahari siang itu tidak menghalangi Ny Turnip (70 tahun), tekun menyiangi tanaman bawang miliknya. Gerakan tangan yang mulai lamban, menandakan perempuan Desa Sigurgur, Kecamatan Simarmata, Kabupaten Samosir ini tidak lagi segesit petani bawang yang lebih muda.

Di ladang seluas setengah hektare Ny Turnip setiap hari menghabiskan sebagian waktunya bercocok tanam bawang, salah satu ciri komoditi khas pertanian Pulau Samosir, selain padi, jagung, dan kacang.

Berangkat ke juma (ladang, --bahasa Tapanuli Utara) sekitar pukul 06.30 WIB dan kembali ke rumah sekitar pukul 12.00 WIB, menjadi kegiatan keseharian perempuan beranak sembilan ini.

Bertani bawang tentu merupakan pilihan Namboru (--panggilan orang Tapanuli kepada bibi/tante--) maklum pekerjaan ini sudah dilakoninya sejak muda.

Bagi seorang nenek seusia Namboru, seharusnya sudah lebih banyak istirahat dengan menikmati sisa-sisa hidupnya yang semakin ujur.

Akan tetapi Namburo yang hidup sendiri di tanah leluhurnya itu, berkeras tetap menjadi petani bawang adalah bagian dari hidupnya, karena dari situlah ia mampu mengantarkan seluruh anaknya meraih gelar sarjana serta mendapat penghidupan yang sangat layak.

Bahkan setelah ditinggal sang suami sekitar tahun 1993, ia berjuang menghidupi anggota keluarganya dengan hasil bertani bawang.

Dari sembilan anaknya yang kini merantau ke Jakarta dan sejumlah daerah di Tanah Air itu, Turnip memiliki 16 orang cucu.

Namun kesendirian Namboru di desa yang dihuni hanya 10 keluarga itu tidak menjadi masalah baginya.

Desa Sigurgur berjarak sekitar 11 kilometer dari ibukota Kecamatan Simanindo, tergolong desa sedikit tandus, sepi penduduk, jauh dari fasilitas modern. Aliran listrik saja hanya hidup pada malam hari, itu pun sekitar tiga hingga empat jam.

Namboru menuturkan rasa sepi tidak pernah menyergap, meskipun anak-anaknya berada jauh darinya.

"Tidak lah itu (kesepian)... kan anak-anakku dan cucuku terus telepon," katanya, dalam bahasa Indonesia bercampur dialek khas Tapanuli.

Apalagi sejak tahun 1996 Namboru dibekali anak-anaknya sebuah telepon seluler (ponsel).

Sejak ponsel "menemani" kesehariannya, Namboru seakan memiliki obat mujarab untuk melepas rindunya kepada orang-orang terdekatnya, karena kapanpun waktunya bisa menghubungi dan dihubungi anak-anak dan cucu-cucunya walaupun untuk sekedar menanyakan kabar.

"Tinggal telepon saja. Orang itu (mereka) juga selalu tanya saya, sehat atau tidak," ujarnya semangat.

Pulau Samosir seluas 70.000 hektare berada di tengah Danau Toba, Sumatera Utara, pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.

Kabupaten Samosir ini terdiri atas 9 kecamatan, yaitu Pangururan (Ibukota Kabupaten), Harian, Sianjur Mulamula, Nainggolan, Onan Runggu, Palipi, Ronggur Nihuta, Simanindo, dan Sitio-Tio.

Untuk melayani kebutuhan komunikasi dan informasi masyarakat di pulau Samosir yang berpenduduk 131.000 jiwa itu (sensus 2006), PT Telkomsel menjadi pelopor.

Telkomsel operator seluler pertama masuk ke wilayah yang dijuluki "Pulau 1000 Tugu" itu, pada tahun 1995. Hingga kini Telkomsel telah menggelar 7 unit menara radio pemancar (BTS).

Setahun kemudian atau tahun 1996 PT Indosat juga masuk, dengan jumlah menara saat ini mencapai empat unit, disusul PT Excelcomindo Pratama (XL) tahun 1997 dengan tiga unit menara pemancar.

Tidak ada data jumlah pelanggan seluler di pulau yang luasnya diperkirakan hampir sama dengan luas negara Singapura itu.

Akan tetapi Telkomsel dipastikan memiliki pangsa pasar yang terbesar atau menguasai lebih dari setengah dari pelanggan seluler di sana.

Namboru mulai menggunakan layanan Telkomsel sejak tahun 1996, dengan kata lain telah menjadi pelanggan yang loyal dalam 13 tahun terakhir.

"Ini saja (Simpati, --kartu prabayar Telkomsel), tidak pernah ganti. Ini (ponsel) terus `kawan` saya, mulai dari rumah ke ladang hingga di acara adat," ujar Namboru, sambil menunjuk satu menara BTS di kejauhan.

Meski begitu, Namboru mengaku hanya menggunakan fasilitas percakapan (voice) di ponselnya, sedangkan untuk mengirim dan membaca layanan pesan singkat (SMS) dia selalu minta tolong kepada anak tetangga.

Sedangkan untuk pulsa, perempuan yang raut wajahnya telah dijejali keriput tanda termakan usia itu mengatakan, selalu mendapat kiriman dari anak-anak maupun cucu-cucunya.

"Saya tinggal pakai saja. Tidak tahu aku berapa uangnya (pulsa) di sini (ponsel) sekarang," katanya sambil mengunyah sirih.

Melalui ponsel, Namboru tentu tidak saja untuk berkomunikasi dengan keluarganya, tetapi juga menjadi alat untuk berinteraksi dengan para pengepul bawang untuk menjual hasil jerih payahnya terutama menjelang musim panen.

Pendapatan Namboru dari hasil bertani bawang, kemungkinan tidak lagi besar karena sesuai dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.

Selain itu, kejayaan produksi bawang Samosir sudah lewat sekitar sekitar 15 tahun lalu, seiring makin maraknya gempuran bawang impor dan bawang asal Pulau Jawa di pasar.

Akan tetapi sosok perempuan seperti Ny Turnip yang mampu mencari nafkah sendiri ini bisa jadi tidak hanya ditemui di Samosir, tetapi bisa jadi "namboru-namboru" lain juga ada di daerah pedalaman lain di Indonesia.

Inovasi mobile-lifestyle

Memasuki usia 14 tahun, Telkomsel sebagai pelopor teknologi seluler di Tanah Air, anak perusahaan PT Telkom ini terus melakukan inovasi dalam memberikan layanan kepada masyarakat.

Dengan berbagai terobosan pula Telkomsel mampu menguasai pangsa pasar seluler tanah air hingga sekitar 55 persen.

Hingga medio 2009, jumlah pelanggan Telkomsel menembus 75 juta nomor, yang dilayani 27.000 BTS, sebanyak 4.500 di antaranya adalah menara pemancar nodeB yang mendukung layanan seluler generasi ke tiga (3G).

Hingga akhir tahun 2009 perusahaan menargetkan jumlah nodeB menjadi sekitar 7.500 unit.

Kapasitas infrastruktur yang sudah digelar itu, mampu menangani panggilan hingga 75 juta percakapan, dan lalu lintas SMS sebanyak 4 miliar SMS/hari, dengan tingkat keberhasilan kontinuitas pembicaraan ("call completion rate"/CCR) sebesar 96,66 persen.

Mengutip pepatah, "pengalaman adalah guru yang terbaik".

Bisa jadi pengalaman dan ketekunan Telkomsel menggelar jaringan di daerah terpencil, terisolasi, maupun daerah terluar Indonesia menjadikan perusahaan ini dipercaya pemerintah menggarap program pelaksanaan kewajiban universal (universitas service obligation/USO) menggelar jaringan komunikasi di 24.056 desa.

Program USO tentu makin mengukuhkan Telkomsel sebagai provider telekomunikasi yang bakal mencakup hingga 100 persen populasi penduduk Indonesia.

Menurut Ketua Mastel Mas Wigrantoro, secara umum empat tahapan pengembangan layanan maupun bisnis seluler di Tanah Air yaitu; pertama,cakupan, pada tahapan ini operator membangun infrastruktur jaringan.

Kedua tarif, yaitu bagaimana operator berkreasi mengenakan tarif kepada konsumen. Ketiga, kualitas layanan, dan keempat jasa layanan nilai tambah dari mobile service.

Harus diakui, seiring makin luasnya jaringan dan inovasi layanan seluler, kehadiran ponsel memunculkan gaya hidup penuh mobilitas atau mobile-lifestyle (m-lifestyle).

Seiring kemajuan zaman dan babak baru era komunikasi, ponsel tidak lagi sekedar menelepon dan SMS, tetapi memiliki peran penting mendukung aktivitas sehari-hari.

Fitur layanan dapat sekaligus dinikmati melalui ponsel, mulai game, tv, radio, musik, film, kuis, komik, recorder, kamera, handycam, komputer, layanan perbankan, hingga transaksi dompet digital.

Dalam berbagai kesempatan, Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, fundamental kekuatan bisnis Telkomsel didukung dua hal, yaitu pelanggan dan jaringan yang saling mengisi.

"Kualitas jaringan akan menentukan loyalitas pelanggan. Kalau kualitas jaringan tidak bagus jangan harap dipercaya oleh pelanggan," ujar Sarwoto.

"Jadi... yang penting bagaimana infrastruktur tetap dibangun demi peningkatan kualitas layanan," tegasnya.

Pada tahun 2009, Telkomsel setidaknya menggelontorkan dana belanja modal (capex) sekitar Rp14 triliun. Ia memastikan porsi terbesar alokasi capex tetap pada penggelaran infrastruktur.

Adapun ragam layanan mobil lifestyle yang disediakan Telkomsel saat ini meliputi 3G, Flash, mobile banking, mobile wallet T-Cash, BlackBerry, iPhone, nada sambung pribadi (NSP) hingga ribuan konten.

Dua layanan Telkomsel yang cukup fenomenal adalah layanan BlackBerry, dan IPhone.

Sejak membesut layanan BlackBerry prabayar pada Mei 2008, Telkomsel mengklaim telah memiliki pelanggan BlackBerry sekitar 100.000 hingga Mei 2009, dengan target sekitar 200.000 aktivasi pada akhir tahun ini.

Sedangkan jumlah penjualan ponsel canggih milik prinsipal asal Amerika Serikat, IPhone yang hak ekslusifnya dimiliki Telkomsel hingga Juni 2009 telah terjual sekitar 9.000 unit.  (*)

Oleh Oleh Roike Sinaga
Editor: Bambang
COPYRIGHT © ANTARA 2009

Pengendalian IMEI untuk pembatasan ponsel ilegal

Komentar