17,5 juta rumah tangga diprediksi terancam miskin akibat COVID-19

17,5 juta rumah tangga diprediksi terancam miskin akibat COVID-19

Warga menerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) di Balai Desa Tanjungkarang, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Senin (18/5/2020). Pemerintah melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi memberikan BLT-DD sebesar Rp600 ribu per bulan per kepala keluara (KK) selama tiga bulan kepada 23.195 KK yang tersebar di willayah itu yang terdiri dari warga miskin, orang sakit kronis dan orang kehilangan pekerjaan akibat terdampak COVID-19. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/wsj. (ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO)

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 17,5 jt rumah tangga diperkirakan terancam miskin dengan asumsi garis kemiskinan Rp440 ribu per kapita per bulan akibat COVID-19 karena adanya penurunan upah dan tanpa pendapatan.

"Ini tambahan, di luar angka kemiskinan yang memang sudah ada. Ini orang yang yang bahasa saya, termiskinkan," kata Peneliti dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Zainul Hidayat dalam webinar Survei Dampak Darurat Virus Corona terhadap Tenaga Kerja Indonesia, Jakarta, Rabu.

Ancaman kemiskinan akibat COVID-19 ini merupakan prediksi yang akan terjadi dalam 2-3 bulan ke depan akibat aktivitas ekonomi yang melemah selama pandemi ini.

Hasil survei itu berdasarkan kolaborasi riset antara Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan dan Lembaga Demografi Universitas Indonesia.

Baca juga: Baitulmaal Muamalat bagikan 2000 paket buka puasa masyarakat miskin

Baca juga: Menlu sebut COVID-19 perdalam kesenjangan antara negara kaya, miskin


Sementara pada kelompok buruh/karyawan, diperkirakan akan mencapai 7 juta rumah tangga yang termiskinkan.

Tim peneliti juga memprediksi pengangguran akan bertambah 25 juta orang akibat kegiatan usaha terhenti dan tidak ada pekerjaan untuk pekerja bebas.

Sementara pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan mencapai 8 juta, dan pelaku usaha mencapai 8 juta juga.

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2019, ada sebanyak 26 juta pekerja yang berusaha sendiri, dan pekerja bebas/pekerja keluarga tercatat berjumlah 26,5 juta.

Pada lingkup pekerja yang berusaha sendiri itu, survei memprediksikan akan muncul 10 juta pekerja yang berhenti bekerja.

10 juta pekerja lainnya hanya akan bergantung pada pendapatan yang telah mengalami penurunan hingga 40 persen lebih.

Sementara, pasca dua bulan ke depan jika pandemi masih terjadi, diperkirakan setidaknya lebih dari 10 juta pekerja mandiri tersebut akan kesulitan pekerjaan dan sekaligus kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Mereka hanya bisa bertahan dengan bantuan sosial, baik dari bantuan pemerintah, masyarakat maupun lembaga sosial lainnya.

Kemiskinan akan meningkat karena penurunan pendapatan sebesar 3,9 juta rumah tangga dan tanpa pendapatan sebanyak 4,8 juta rumah tangga.

Sementara pada lingkup pekerja bebas/pekerja keluarga, sekitar 15 juta pekerja bebas/pekerja keluarga akan menganggur.

Kemiskinan akan meningkat karena penurunan pendapatan terhadap 2,9 juta rumah tangga dan tanpa pendapatan terhadap 5,8 juta rumah tangga.*

Baca juga: Sebanyak 5.321 KK miskin di Kulon Progo dapat BLT dana desa

Baca juga: Pemkab Gowa distribusikan 50 ribu paket sembako bagi warga miskin

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pendapatan berkurang, PT KAI kembangkan bisnis kuliner

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar