Stok darah di RSUD Jayawijaya hanya dua kantong

Stok darah di RSUD Jayawijaya hanya dua kantong

Helikoter saat mengangkut pasien dari salah satu distrik di pegunungan ke RSUD Wamena pada beberapa waktu lalu. (ANTARA/Marius Frisson Yewun)

Stok darah kami yang ada saat ini hanya golongan darah B dan AB, masing-masing satu kantong, kantong 250 ml
Wamena (ANTARA) - Stok darah untuk kebutuhan medis di RSUD Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, hanya dua kantong berukuran 250 mililiter.

Direktur RSUD Wamena dokter Felly Sahureka melalui sambungan telepon, Jumat, mengatakan kesulitan mendapatkan stok darah terjadi setelah berkurangnya pendonor sukarela yang mendonorkan darah akibat pandemi virus corona.

Baca juga: Ruang isolasi pasien COVID-19 disiapkan Dinas Kesehatan Jayawijaya

"Stok darah kami yang ada saat ini hanya golongan darah B dan AB, masing-masing satu kantong, kantong 250 ml," katanya.

Terakhir kali pihak RSUD serta unit transfusi darah (UTD) setempat melakukan donor darah pada HUT TNI di Makodim Jayawijaya dan Batalyon.

"Sedangkan banyak pasien yang butuh transfusi darah sehingga itu digunakan," katanya.

Baca juga: PMI bantu evakuasi pesawat jatuh di Danau Sentani Papua

Pihaknya mengharapkan pendonor sukarela datang ke unit transfusi darah di RSUD Wamena. Unit itu buka 24 jam dan menerima pendonor dengan golongan darah apa saja.

"Jangan takut COVID-19 di RSUD. Yang belum pernah mendonor mari mendonorkan darah," katanya.

Ketua UTD Jayawijaya Ludiya Logo mengatakan gedung maupun tenaga yang selama ini digunakan merupakan milik RSUD Wamena.

Baca juga: PMI Papua berikan promkes untuk pengungsi banjir bandang Sentani

"Semua fasilitas di dalam UTD ini masih di bawah RSUD, jadi tidak milik PMI seperti yang ada di Kabupaten Merauke dan Jayapura, yang namanya unit donor darah (UDD). Kami di Jayawijaya PMI belum punya UDD," katanya.

Untuk menjadi UDD perlu adanya sarana prasarana dan sumber daya manusia (SDM) tersendiri tanpa tergantung ke RSUD.

Baca juga: Upaya cegah COVID-19, PMI Papua sebar ribuan masker pada warga

Ia mengatakan pihak PMI Papua pernah meminta relawan perwakilan Jayawijaya untuk disekolahkan selama tiga tahun namun belum bisa dikabulkan oleh UTD.

"Selama ini dari provinsi ada minta tenaga relawan kirim sekolah di Jawa tetapi kami kekurangan relawan, jadi hanya pelatihan penanganan kecelakaan itu yang kita kirim beberapa mantri dan suster untuk ikut," katanya.

Baca juga: PMI Papua perkuat kapasitas relawan spesialisasi pertolongan pertama
 

Pewarta: Marius Frisson Yewun
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar