Moeldoko: Media sosial sarana sosialisasi nilai-nilai Pancasila

Moeldoko: Media sosial sarana sosialisasi nilai-nilai Pancasila

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengikuti Webinar Sobat Cyber Indonesia dengan Tema Menanamkan Pancasila di Era Digital untuk Melawan Radikalisme di Babak New Normal, di Jakarta, Selasa. (KSP)

Jakarta (ANTARA) -
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan media sosial dapat dimanfaatkan kaum muda sebagai sarana menyosialisasikan nilai-nilai Pancasila.

Hal itu disampaikan Moeldoko pada acara webinar Sobat Cyber Indonesia dengan tema Menanamkan Pancasila di Era Digital untuk Melawan Radikalisme di Babak New Normal, pada Selasa.

"Pada era digital ini, kaum muda dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk sosialisasi dan mengomunikasikan perilaku keseharian yang sesuai nilai-nilai Pancasila. Dengan begitu, Pancasila sebagai dasar negara akan hidup terus di tengah masyarakat," kata Moeldoko, di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Ketua MPR: Nilai-nilai Pancasila harus ada dalam tindakan nyata

Moeldoko mengatakan generasi muda Indonesia harus menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku hidup sehari-hari. Sikap bertanggung jawab, toleransi, dan disiplin merupakan perilaku positif yang perlu ditanamkan pada setiap kalangan muda.

“Pancasila bersifat lintas generasi dan lintas perkembangan sejarah politik dan ekonomi. Pancasila sebagai ideologi harus terbuka dengan nilai-nilai baru, namun identitas dasar tetap digunakan sebagai pedoman hidup bernegara dan bermasyarakat,” katanya.

Moeldoko meminta generasi milenial agar bergabung dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk memberi masukan dari segi komunikasi.

"BPIP dapat memanfaatkan media sosial untuk sarana komunikasi yang efektif menyampaikan nilai-nilai Pancasila," katanya.

Baca juga: Anggota DPR minta pemerintah wujudkan Pancasila dalam setiap kebijakan

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Denny JA, dukungan terhadap Pancasila terus tergerus. Tatanan teknologi informasi masa kini telah mendisrupsi relasi antara negara dengan rakyat dan komunitas, serta muncul potensi radikalisme sebagai gejala global yang mengancam eksistensi bangsa.

Hal tersebut dipengaruhi oleh munculnya berbagai hoaks yang tersebar di media sosial, seperti facebook dan twitter.

Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet pada 2017, hoaks yang menyebar di media sosial tersebut menyangkut berbagai hal, di antaranya sosial politik, SARA, dan kesehatan. Hoaks juga bisa berupa tulisan, gambar, dan video.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan radikalisme berkembang menjadi kelompok teror.

Baca juga: Wapres: Pancasila hadir sebagai titik temu berbagai perbedaan

Menurut Boy Rafli, mereka pengusung paham radikal adalah kelompok yang tidak dapat menerima perbedaan pemahaman.

"Para penyebar isu-isu radikal menggunakan media sosial atau 'online training' untuk melakukan aksi teror dan mengatasnamakan bela negara, seolah berjuang untuk kepentingan agama yang sebenarnya telah disesatkan oleh paham radikal,” katanya.

Ia menjelaskan, kelompok radikal ini menganggap kelompoknya yang paling benar dan pihak lain harus diperangi.

“Generasi milenial sudah banyak dipengaruhi informasi global. Ini tantangan kita dalam ber-Pancasila di era sekarang, khususnya anak muda. Kita kikis habis pemikiran intoleran dengan nilai-nilai Pancasila," ujar dia.

Menurut dia, semangat kalangan muda harus bergelora untuk mengenal dan memahami nilai-nilai luhur Pancasila serta disesuaikan dengan pendekatan konteks kekinian.

Baca juga: Nilai luhur Pancasila perlu diaktualisasi dalam kehidupan nyata

Untuk itu, perlu diberikan ruang kepada generasi muda untuk menanamkan Pancasila sejak dini.

"Saya yakin Pancasila itu keren. Generasi kita berutang budi kepada pendahulu yang telah menjadikan Pancasila sebagai ideologi, menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam wadah negara RI. Kita sebagai generasi penerus wajib melestarikan nilai-nilai Pancasila. Pancasila harus menjadi moral publik bangsa Indonesia,” katanya.

Boy Rafli juga menegaskan Pancasila memberi kebebasan kepada warga negara untuk memeluk agama sesuai kepercayaan masing-masing. Pancasila mengajarkan bersatu dalam perbedaan, azas musyawarah harus dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

Sementara itu, Aris Heru Utomo dari Direktorat Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP mengatakan, setiap warga negara memiliki kewajiban untuk menjunjung nilai-nilai Pancasila dan sikap hidup bermasyarakat.

Baca juga: Pakar sebut ruang siber ancaman eksistensi Pancasila

“Salam Pancasila tidak dimaksudkan untuk menggantikan salam keagamaan. Pancasila harus menjadi penuntun, menjadi pedoman berdasarkan pengalaman fakta dan akal kita," ujar Aris.

Menurut dia, Pancasila berperan untuk mempersatukan seluruh elemen masyarakat. Untuk itu, semua pihak harus terus memperjuangkan dengan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

“Adanya pandemi COVID-19 ini, kita melihat bahwa siapapun bisa menjadi korban, BPIP melakukan pendekatan formal, informal, dan nonformal untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila. BPIP juga sejak tahun lalu melibatkan banyak komunitas untuk melakukan sosialisasi mengenai nilai-nilai Pancasila. Selain itu juga belajar dari negara lain dalam mengajarkan nilai-nilai dasar negara," kata Aris.

Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Inilah Tupoksi Kantor Staf Presiden

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar