Di tengah pandemi, ANTAM berhasil bukukan laba usaha Rp137,54 miliar

Di tengah pandemi, ANTAM berhasil bukukan laba usaha Rp137,54 miliar

Seorang petugas memperlihatkan emas batangan produksi PT Antam di Jakarta, Senin (19/1). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/ss/ama/15 (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)

Jakarta (ANTARA) -- PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) (IDX:ANTM) berhasil membukukan laba usaha sebesar Rp137,54 miliar selama triwulan pertama 2020 (Q120), meski pandemi Covid-19 tengah mewabah hampir di seluruh dunia. Adapun total penjualan mencapai Rp5,20 triliun, dengan porsi penjualan ekspor sebesar Rp1,37 triliun atau 26 persen dari total penjualan.

Sekretaris Perusahaan ANTAM Kunto Hendrapawoko mengatakan, emas dan feronikel menjadi kontributor terbesar terhadap penjualan selama Q120.

"Penjualan emas sebesar Rp3,97 triliun atau 76 persen, sedangkan feronikel berkontribusi sebesar Rp965,95 miliar atau 19 persen," ungkap Kunto.

Pandemi Covid-19 berdampak signifikan bagi industri pertambangan global, salah satunya mengakibatkan pembatasan aktivitas perdagangan internasional. Meskipun demikian, ANTAM mampu menjaga laju produksi dan penjualan komoditas tambang.

Produksi feronikel mencapai 6.315 Ton nikel dalam feronikel (TNi) dengan tingkat penjualan mencapai 6.379 TNi. Adapun, produksi emas 446 kg (14.339 troy oz.), dengan volume penjualan emas sebesar 5.097 kg (163.872 troy oz.).

Kuntomelanjutkan, seiring dengan transisi fase normal baru, kondisi perekonomian dan permintaan global mulai mengalami tren positif pada triwulan kedua tahun 2020. ANTAM terus berupaya untuk meningkatkan capaian produksi dan penjualan komoditas utama Perusahaan.

"Perusahaanakan berfokus pada pengembangan sumber daya nikel dan bauksit yang dapat menunjang rencana pengembangan bisnis dan operasi jangka panjang Perusahaan," tuturnya.

Lebih lanjut, Kuntomemaparkan pihaknya terus berupaya meningkatkan produksi komoditas tambangnya. Saat ini, ANTAM sedang membangun pabrik feronikel di Halmahera Timur, Maluku Utara dengan kapasitas terpasang sebesar 13.500 ton TNi/tahun.

"Serta pengembangan hilirisasi bauksit dengan membangun Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, yang dikembangkan bersama dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) dengan kapasitas tahap pertama sebesar 1 juta ton SGAR," tukasnya.

Pewarta: Primasatya
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kilas NusAntara Siang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar