Jakarta (ANTARA News) - Komisi VII DPR RI menyesalkan kebijakan ConocoPhilips di Sumatra Selatan yang lebih memprioritaskan ekspor gas ke Singapura daripada untuk kebutuhan dalam negeri, khususnya di Jawa.

"Seharusnya, Conoco lebih memprioritaskan produksi gas ke Jawa dan bukan ke Singapura," kata anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto dalam rapat dengar pendapat dengan Kepala Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) R Priyono di Jakarta, Selasa.

Dalam rapat yang juga dihadiri pejabat ConocoPhillips dan ExxonMobil itu, Komisi VII meminta BP Migas untuk mendesak perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia agar lebih mendahulukan kebutuhan di dalam negeri.

Dito yang berasal dari Fraksi Partai Golkar menjelaskan, sekarang ConocoPhillips memproduksi gas dari tiga lapangan yakni South Jambi, Grissik, dan Suban.

Produksi gas itu selanjutnya dikirim melalui pipa ke Singapura, Lapangan Duri yang dikelola PT Chevron Pacific Indonesia, dan Jawa melalui pipa milik PT PGN Tbk.

Menurut dia, saat produksi South Jambi yang dikirim ke Singapura mengalami penurunan dari sebelumnya 40 menjadi enam juta kaki kubik per hari (MMSCFD), Conoco menutupinya dari Lapangan Grissik.

Akibatnya, Grissik yang memasok gas ke pembangkit milik PT PLN (Persero) di Jawa mengalami penurunan hingga 60 MMSCFD.

"Dampak lanjutannya, PLN terpaksa memakai BBM yang membengkakkan subsidi," katanya.

Ia melanjutkan, saat kompresor yang memompa gas ke Singapura tengah menjalani perawatan, pasokan gas ke Jawa mengalami peningkatan.

"Nanti, kalau perawatan kompresor selesai dilakukan, pasokan gas ke Jawa akan turun lagi," katanya.

Dito juga mengatakan, harga gas ke Singapura memang mencapai 12 dolar AS per MMBTU atau dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan ke Jawa yang hanya 5-6 dolar per MMBTU.

"Namun seharusnya, perbedaan harga gas tersebut jangan menjadi alasan. Conoco harus tetap memprioritaskan produksi gasnya ke dalam negeri," katanya.
(*)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009