Artikel

Menyelami pemikiran lima musisi muda di "Antologi Matahari"

Oleh Nanien Yuniar

Menyelami pemikiran lima musisi muda di "Antologi Matahari"

"Antologi Matahari", buku-buku dari musisi muda .Feast, Hindia, Aldrian Risjad, Mothern dan Agatha Pricilla dari label Sun Eater. (ANTARA/HO)

Jakarta (ANTARA) - Lima musisi muda Indonesia -- Feast, Hindia, Aldrian Risjad, Mothern dan Agatha Pricilla-- dari label Sun Eater membagikan pemikiran mereka dalam bentuk tulisan, puisi dan komik yang tergabung dalam buku "Antologi Matahari" terbitan Gramedia Pustaka Utama bersama Pear Press.

"Ini adalah perpanjangan tangan dari lagu-lagu mereka. Buku ini bercerita tentang artis-artis ini, tapi tidak self centered, ini adalah lagu yang bisa dibaca," tutur Sahid Permana dari Sun Eater dalam konferensi pers peluncuran "Antologi Matahari", Sabtu.

Baca juga: Gramedia gandeng Cashlez hadirkan layanan bayar tanpa antre

Baca juga: Mini album "Uang Muka", cara Feast bahas peliknya kondisi keuangan


Buku ini juga dibuat atas kolaborasi dengan penulis lain dan graphic artist seperti Rivanlee Anandar, Salmaa Chetisza dan Rahmad Sumantri.

"Antologi Matahari" terdiri dari lima buku, yakni "Perjalanan Singkat Ke Multisemesta" dari .Feast, "Jadi, Bagaimana?" dari Aldrian Risjad, "Hindia Menjawab" dari Baskara Putra (Hindia), komik "After Dark" dari Mothern dan "The 4 Stages In Being Yourself Again" dari Agatha Pricilla.

Lima buku ini digabungkan dalam boks merah berjudul "Antologi Matahari", dilengkapi pengantar bertajuk "Prolog Matahari" yang mengajak pembaca berkenalan dengan Sun Eater sejak awal berdiri hingga saat ini.

Menggabungkan banyak kepala dalam proyek antologi ini bukan hal mudah, apalagi sebagian besar musisi ini lebih terbiasa berkarya dalam bentuk lagu, bukan buku.

"Banyak yang harus dibicarakan, banyak yang harus dikejar, bagaimana menyelesaikan tenggat waktu. Menulis lirik tidak sama dengan menulis buku, mungkin butuh waktu kecuali Baskara yang suka menulis," kata Sahid.
Agatha Pricilla menulis buku "The 4 Stages In Being Yourself Again" dalam "Antologi Matahari" (ANTARA/HO)


Agatha Pricilla, yang pernah jadi anggota girlband "Blink" dan aktif sebagai aktris, menggandeng Salmaa Chetisza dalam menulis buku puisi "The 4 Stages In Being Yourself Again". Salma juga pernah diajak Agatha berkolaborasi dalam menulis lirik lagu.

"Aku (kalau buat lagu) notasi based dulu, menulis lirik juga masih belajar," kata Agatha yang ingin menulis lagi bila ada kesempatan kelak.

Baca juga: Ify Alyssa dan BLINK reuni di lagu "What About Us?" versi akapela


Baca juga: Agatha Pricilla siapkan album baru tahun depan


"The 4 Stages In Being Yourself Again" adalah bacaan yang lebih ringan dan ceria, sama seperti karakter aktris "Bebas" ini. Agatha mengibaratkan buku ini sebagai prekuel dari lagu-lagunya yang menyampaikan kisah dengan tema lebih dewasa.

"Topik di buku ini lebih childish," ujar dia.

Pengalaman menikmati perjalanan kedewasaan yang digambarkan dalam lagu-lagu Agatha akan lebih lengkap bila diawali dengan membaca buku ini.

Musisi 23 tahun ini punya cara yang sama dalam memperlakukan puisi dan lagu. Sama seperti lagu yang bisa diputar berulang kali terus menerus bila sesuai seleranya, Agatha pun bisa membaca puisi yang dia sukai berulang-ulang.

Dia berharap puisi dalam buku tersebut bisa terasa dekat di hati pembaca dan bisa dibaca terus menerus.
 
Aldrian Risjad menulis buku "Jadi, Bagaimana?" dalam "Antologi Matahari" (ANTARA/HO)


"Jadi, Bagaimana?" memberikan ruang bagi Aldrian Risjad untuk menuangkan pertanyaan tentang kehidupan. "Jadi, Bagaimana?" adalah sekumpulan pertanyaan yang muncul di benak Aldrian, rasa penasaran yang ingin ditularkan kepada para pembaca.

Menurut Aldrian, proses menulis buku dan album serupa tapi tak sama.

"Kayak bikin konsep album, tapi enggak bikin musiknya," kata pelantun "Milk Candy".

Satu hal yang pasti, dia harus membuat tulisan yang lebih jelas agar dimengerti pembaca, beda seperti lagu yang liriknya bisa ambigu.
Mothern menulis buku "After Dark?" dalam "Antologi Matahari" (ANTARA/HO)


Mothern, duo beranggotakan Pandu dan Rasta, mengambil pendekatan berbeda dengan menyuguhkan komik yang merepresentasikan ego masa muda berjudul "After Dark". Ini adalah hasil kolaborasi dengan Rahmad Sumantri.

Alasan memilih medium komik dilatarbelakangi pengalaman mereka berdua yang tumbuh besar dengan membaca komik-komik. Juga, agar pendengar Mothern bisa menikmati lagu-lagu mereka dalam bentuk visual.

"Lebih ke bagaimana caranya orang-orang yang membaca bisa melihat interpretasi dari lagu kita, bisa lihat dalam bentuk visual," kata Mothern.

"Kapi karena ini visual, orang bisa menangkap apa yang ingin kami sampaikan walau dalam bentuk fiksi."

Baskara Putra terlibat dalam dua buku, "Hindia Menjawab" dan "Perjalanan Singkat Ke Multisemesta".

Baskara, yang memiliki proyek solo Hindia, adalah bagian dari grup band .Feast yang beranggotakan Adnan S.P, Dicky Renanda P, F. Fikriawan W, dan Adrianus Aristo.
 
Feast menulis buku "Perjalanan Singkat Ke Multisemesta" dalam "Antologi Matahari" (ANTARA/HO)


"Perjalanan Singkat Ke Multisemesta" adalah medium Feast untuk membuat cerita fiksi tentang dunia yang menjadi latar lagu-lagu mereka. Buku ini juga melibatkan Rivanlee Anandar.

Feast sebelumnya pernah membuat buku yang dicetak terbatas sebanyak 500 kopi, melengkapi album pertama mereka. "Perjalanan Singkat Ke Multisemesta" adalah pengembangan dari dunia yang sudah ditulis Feast di buku yang hanya dinikmati 500 orang pembeli album perdana mereka.
Baskara Putra (Hindia) menulis buku "Hindia Menjawab" dalam "Antologi Matahari" (ANTARA/HO)


Sementara itu, "Hindia Menjawab" adalah jawaban Baskara (Hindia) untuk pertanyaan-pertanyaan warganet yang sudah dikurasi. Konsep ini dipilih karena dia sudah terlanjur menyampaikan banyak hal di album Hindia.

"Pas 'Antologi Matahari' mau jalan, gue bilang gue enggak tahu mau ngomong apa. Apa yang mau gue sampaikan sudah ada di album," kata Baskara.

Pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan untuknya di dunia maya akhirnya akan dijawab di "Hindia Menjawab". Dia menjawab pertanyaan dari para pendengarnya mengenai arti pulang, keluarga, dan impian.

Musik dan buku adalah medium berbeda, namun punya hakikat yang sama, ujar dia, yakni menyampaikan apa yang dia rasakan. Setiap medium punya keistimewaan tersendiri, misalnya lagu yang bisa memadatkan kisah satu dekade dalam durasi tiga menit. Tapi ada juga cerita yang hanya bisa disampaikan melalui tulisan. Yang pasti, dua medium itu bisa sama-sama dinikmati.

"Kalau menulis lagu, ada cara-cara untuk melipat dimensi dari apa yang ingin diceritakan, kalau mau ceritakan C ya langsung disampaikan. Sementara dalam menulis buku, untuk menceritakan C harus menceritakan A, B dulu untuk sampai C, jadi lebih komprehensif," kata Baskara mengenai perbedaan menulis lagu dan buku.

Antologi Matahari dijadwalkan untuk terbit reguler mulai 14 Oktober mendatang. Sejak akhir September lalu, edisi khusus bertanda tangan buku ini telah lebih dulu dicari para penggemar Sun Eater lewat program pre order di salah satu lokapasar (marketplace).

Baca juga: Agatha Pricilla pernah dapat julukan "tahu" gara-gara warna kulit

Baca juga: "Selimut" hasil kolaborasi Petra Sihombing dan Hindia

 

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Mentawai rentan diserbu narkoba melalui samudera hindia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar