SAS Institute minta ormas Islam bantu sosialisasi vaksin COVID-19

SAS Institute minta ormas Islam bantu sosialisasi vaksin COVID-19

Ilustrasi - Satu botol botol vaksin virus corona Covid-19 di laboratorium. ANTARA/Shutterstock/pri.

Jakarta (ANTARA) -
Said Aqil Siroj Institute meminta ormas Islam dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk membantu pemerintah dalam melakukan sosialisasi vaksin COVID-19 kepada masyarakat.
 
"Masih kuatnya teori konspirasi dari kelompok-kelompok anti-vaksin, peran MUI dan ormas-ormas Islam menjadi sangat penting untuk membantu pemerintah dalam sosialisasi vaksin," kata Deputi Kampanye Publik Said Aqil Siroj (SAS) Institute Endang Tirtana dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis.
 
Bahkan, lanjut Endang, masih banyak yang menganggap COVID-19 tidak ada dan hanya konspirasi semata.

Baca juga: Bio Farma: 1.074 relawan sudah dapat dua suntikan vaksin Sinovac
 
"Para ulama dan pemuka agama harus berperan kuat dalam memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa vaksin COVID-19 merupakan situasi darurat di tengah polemik apakah vaksin tersebut sudah tersertifikasi halal atau belum," katanya.
 
Demikian pula soal rencana vaksinasi darurat, kata dia, pemerintah harus ada penjelasan yang transparan kepada publik.
 
"Jangan sampai karena ketergesa-gesaan akan mempengaruhi rencana dan tahapan yang telah disiapkan pemerintah," katanya.
 
Menurut dia, sosialisasi dan kepercayaan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program vaksinasi.

Baca juga: Pemerintah siapkan vaksin untuk tenaga medis hingga masyarakat miskin
 
"Bagaimanapun, vaksin merupakan opsi utama dalam pemulihan ekonomi. Kesulitan hidup dan ekonomi rakyat sudah sangat berat akibat COVID-19. Perlu dukungan dari semua kalangan, termasuk untuk terus menjaga kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan pada semua aktivitas," kata Endang.
 
Dia menilai pemerintah sudah sangat serius menemukan vaksin COVID-19 untuk rakyat agar dapat keluar dari berbagai krisis yang diakibatkan oleh virus asal Wuhan, China itu.
 
Bahkan, pemerintah telah gencar melakukan diplomasi agar mendapatkan vaksin COVID-19. Pada Agustus 2020 lalu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersama Menteri BUMN Erick Thohir mengunjungi China untuk menjalin kerja sama terkait pengadaan vaksin dari Sinovac Biotech.

Baca juga: Menko Airlangga targetkan RI dapat 290 juta dosis vaksin tahun depan
 
Indonesia melalui PT Bio Farma meraih komitmen 40-50 juta dosis dari Sinovac hingga Maret 2021, dari total keseluruhan mencapai 260 juta dosis.
 
Bio Farma yang merupakan salah satu BUMN farmasi telah menggelar uji klinis fase 3 terhadap vaksin Sinovac dengan melibatkan 1.620 relawan.
 
Endang mengapresiasi pemerintah yang juga melakukan pertemuan dengan pimpinan Sinopharm dan Cansino Biologics. Sinopharm sedang melakukan uji klinis fase 3 di Uni Emirat Arab (UEA) bekerja sama dengan G42. Indonesia mengirim tim "reviewer" untuk memantau perkembangan uji klinis tersebut.
 
Bahkan, Retno dan Erick terbang ke Inggris untuk mendapatkan komitmen pengadaan vaksin dari AstraZeneca sebanyak 100 juta dosis.

Baca juga: Erick Thohir yakinkan 30 juta vaksin COVID tersedia akhir tahun ini
 
Selain itu, Indonesia melalui Bio Farma menjalin kerja sama multilateral pengembangan vaksin dengan Coalition for Epidemic Preparedness Innovation (CEPI).

Pewarta: Syaiful Hakim
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Dua vaksin COVID-19 Thailand masuki tahap uji coba pada manusia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar