Tak bisa melaut, nelayan di Lebak-Banten kembali terlilit utang

Tak bisa melaut, nelayan di Lebak-Banten kembali terlilit utang

Seorang nelayan di Lebak, Jumat (30/10/2020). Para nelayan di Kabupaten Lebak kembali terlilit utang akibat cuaca buruk yang melanda perairan selatan Provinsi Banten hingga ketinggian gelombang antara empat sampai enam meter sehingga mereka tidak bisa melaut. (FOTO ANTARA/Mansyur Suryana)

Untuk menutupi kebutuhan dapur keluarga, para nelayan terpaksa mengutang ke pemilik perahu atau tetangga.
Lebak, Banten (ANTARA) - Para nelayan di Kabupaten Lebak kembali terlilit utang akibat cuaca buruk di mana ketinggian gelombang antara empat sampai enam meter yang melanda perairan selatan Provinsi Banten sehingga mereka tidak bisa melaut.

"Kami sejak sepekan terakhir ini untuk menunjang kehidupan ekonomi keluarga dari mengutang itu," kata Juproni (60) seorang nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bayah Kabupaten Lebak, Jumat.

Nelayan di daerah itu mencapai puluhan orang dan kini mereka menganggur akibat cuaca buruk yang melanda pesisir selatan Banten.

Juproni menjelaskan para nelayan tidak berani melaut karena ketinggian gelombang berpotensi empat sampai enam meter juga ditambah tiupan angin cukup kencang.

Tingginya gelombang itu, kata dia, tentu dapat membahayakan keselamatan nelayan,terlebih nelayan di sini kebanyakan nelayan tradisional.

Untuk menutupi kebutuhan dapur keluarga, para nelayan terpaksa mengutang ke pemilik perahu atau tetangga.

"Kami merasa bingung jika tidak berutang maka keluarga kesulitan ekonomi untuk kebutuhan sehari-hari," katanya.

Begitu juga nelayan lainnya, Darma (55) mengaku bahwa dirinya untuk memenuhi kebutuhan dapur mengandalkan utang dan pembayarannya setelah kembali melaut.

Selama ini, cuaca buruk di Perairan Samdera Hindia mengakibatkan nelayan pesisir selatan Banten tidak melaut dan jika nelayan nekat melaut dikhawatirkan mengalami kecelakaan.

"Beruntungnya, dalam kondisi begini masih ada orang yang memberikan utang untuk kehidupan keluarga," katanya.

Ia mengatakan, selama ini nelayan kembali terjerat utang dari sebelumnya sudah lunas pembayaran dengan melimpahnya tangkapan tersebut.

Bahkan, mereka nelayan juga banyak menjual perabot rumah tangga maupun elektronika akibat cuaca buruk tersebut.

"Kami tidak berani melaut karena ombak pesisir pantai sangat besar dan membahayakan," kata Darma.

Sementara itu seorang petugas Pangkalan Pendaratan ikan (PPI) Binuangeun Kabupaten Lebak Ahmad Hadi mengaku bahwa sebagian besar nelayan tidak melaut akibat cuaca buruk yang ditandai gelombang tinggi dan tiupan angin kencang.

Mereka nelayan yang tidak melaut itu guna menghindari kecelakaan laut sehubunganya tinggi gelombang mencapai enam meter.

"Dari 3.600 nelayan itu sebagian besar mereka tidak melaut," demikian Ahmad Hadi.

Baca juga: Cuaca buruk, ribuan nelayan Lebak menganggur

Baca juga: Sebagian nelayan Lebak tetap melaut pasca-gempa

Baca juga: Ribuan nelayan Banten Selatan terlilit utang

Baca juga: Pemkab Lebak imbau nelayan dilarang tangkap benur lobster


 

Pewarta: Mansyur Suryana
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pandeglang & Lebak berpotensi paling terdampak La Nina di Banten

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar