Tiga alat pendeteksi longsor di Pekalongan rusak

Tiga alat pendeteksi longsor di Pekalongan rusak

Ilustrasi - Komandan Kodim 0710/Pekalongan Letkol CZI Hamonangan Lumban Toruan bersama Wali Kota Pekalongan Saelany melakukan pengecekan sarana dan prasarana bencana. ANTARA/Kutnadi.

"Karena itu kami mengimbau pada warga agar meningkatkan kewaspadaannya dengan menjaga kebersihan lingkungan dan jangan membuang sampah sembarangan,"...
Pekalongan (ANTARA) - Sebanyak tiga dari tujuh alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak (Early warning system)  yang dipasang di wilayah bagian atas atau pegunungan saat ini rusak sehingga warga diimbau meningkatkan kewaspadaanya seiring meningkatnya curah hujan yang mengguyur di wilayah setempat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan Budi Raharjo di Pekalongan, Jumat mengatakan bahwa tujuh alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak ini dipasang di titik rawan bencana agar warga mengetahui adanya gejala bencana alam.

"Namun, tiga dari tujuh alat pendeteksi ini, khususnya yang dipasang di sejumlah titik rawan bencana alam di Kecamatan Kandangserang masih rusak. Oleh karena, kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaanya terhadap longsor dan tanah bergerak seiring memasuki musim penghujan," katanya.
Baca juga: Belasan rumah rusak akibat pergerakan tanah di Pekalongan

Budi mengatakan penyebab kerusakan tiga alat pendeteksi longsor yang rusak karena beberapa hal seperti faktor alam.

"Alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak ini berasal dari bantuan Pemerintah Provinsi Jateng, dan harganya sangat mahal," ucapnya.

Tujuh alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak ini dipasang di Desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriono, Desa Kaliombo dan Werdi Kecamatan Paninggaran, serta Desa Bojongkoneng, Luragung dan Desa Wangkelang Kecamatan Kandangserang.
Baca juga: Banjir ganggu kegiatan belajar di Pekalongan

"Karena itu, kami mengimbau pada warga agar meningkatkan kewaspadaannya dengan menjaga kebersihan lingkungan dan jangan membuang sampah sembarangan," katanya.

Ia mengatakan alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak ini terdiri atas tiga komponen yaitu pengukur intensitas curah hujan (rain gate), tilt meter untuk mengetahui sudut kemiringan lereng atau tanah, dan alat untuk mengukur tingkat pergerakan tanah (ekstenso meter).

Pada setiap alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak ini, kata dia, dilengkapi alarm sehingga masyarakat yang berada di titik potensi rawan bencana dapat menetahui secara dini.

"Adapun pertimbangan alat pendeteksi longsor ini dipasang di titik rawan bencana karena sejumlah desa tersebut pernah terjadi longsor yang cukup parah," katanya.
Baca juga: 4.000 warga Batang dan Pekalongan mengungsi akibat banjir

Pewarta: Kutnadi
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Warga pasang pendeteksi longsor tradisional

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar