Seoul (ANTARA News) - Pemerintah Korea Selatan, Kamis, menyatakan menghargai jasa dua pelaut Indonesia yang tewas saat turut operasi pencarian kapal AL Cheonan yang tenggelam bulan lalu.

"Kami menghargai jasa-jasa kedua pelaut Indonesia itu, dan juga pelaut-pelaut Korea rekan mereka yang tewas dalam insiden tersebut. Kami sungguh menyesalkan telah terjadinya peristiwa ini," kata Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Korea Selatan, Yu Mung-hwan kepada ANTARA di Seoul, Kamis (22/4).

Yu menambahkan, pemerintah Korea Selatan akan memberikan santunan kepada kedua WNI itu, sama sebagaimana diberikan kepada pelaut-pelaut di kapal ikan tempat mereka bekerja saat tabrakan tersebut.

Kapal ikan iGeumyang No. 98, milik usaha penangkapan ikan lokal, tenggelam setelah bertabrakan dengan sebuah kapal kargo Kamboja 26 Maret lalu.

Salah seorang pelaut, Lambang Nurcahyo (36) jenazahnya sudah ditemukan, namun satunya, Yusuf Harefa (35) hingga kini hilang.

Saat itu, kapal ikan dengan dua awak pelaut RI itu sedang turut dalam operasi pencarian korban tenggelamnya kapal AL Korsel Cheonan, yang diperkirakan dihantam torpedo Korut, di kawasan laut sebelah barat negara itu yang disengketakan kedua negara.

Cheonan, sebuah korvet, tenggelam bersama 46 awaknya dan membuat politik dalam negeri Korsel menghangat karena militer setempat dipandang tidak cepat menangani persoalan itu.

Seoul belum menyampaikan tuduhan kepada pihak manapun sebagai pelaku penenggelaman.

Yu mengatakan kedua pelaut Indonesia itu berjasa karena tewas saat melaksanakan perbuatan mulia mencari korban-korban kapal AL Korsel yang tenggelam tersebut.

Dua pelaut Indonesia dipandang telah menjadi pahlawan bagi Korea Selatan setelah keduanya, beserta lima pelaut Korea Selatan yang mengawaki kapal ikan mereka, tewas tenggelam di perairan barat Negara ini.

Surat kabar Korea Times (22/4) dalam tajuk rencananya menyebutkan dua pelaut RI dan rekan-rekannya tersebut sebagai pahlawan.

"Seperti para pelaut AL yang gugur itu, para nelayan Geumyang itu juga merupakan pahlawan yang telah mengambil risiko nyawa mereka untuk menyelamatkan para pelaut AL tersebut," kata Korea Times.

Kapal penangkap ikan Geumyang No. 98 dipandang berjasa besar karena merupakan kapal pertama yang berhasil menemukan lokasi tenggelamnya Cheonan hanya tiga jam setelah pencarian.

Padahal, kapal-kapal AL yang melakukan operasi pencarian dan penyelamatan berhari-hari tidak berhasil menemukan lokasi tenggelamnya Cheonan.

Dua pelaut RI itu adalah bagian dari lebih kurang 500.000 atau 0,56 persen dari total tenaga kerja Indonesia. (*)

Edi Utama/AR09

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010