Luhut: Petrokimia jadi solusi industri migas saat harga minyak turun

Luhut: Petrokimia jadi solusi industri migas saat harga minyak turun

Dokumentasi - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/hp/aa.

Meski banyak pihak memprediksi permintaan minyak tidak akan setinggi sebelumnya, industri minyak dan gas harus berkembang. Kompleks kilang terintegrasi dan petrokimia bisa jadi salah satu solusi,
Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan kompleks kilang terintegrasi petrokimia merupakan salah satu solusi industri migas masa depan.

Dalam gelaran 2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG 2020) secara virtual, Rabu, Menko Luhut Pandjaitan mengatakan harga minyak yang terus menurun, bahkan sebelum pandemi COVID-19 melanda karena kemajuan teknologi dalam produksi shale oil.

Pemintaan yang menurun dari negara-negara pengimpor minyak akibat pandemi juga mempengaruhi permintaan minyak dunia.

Baca juga: Industri migas bertekad tak impor meski harga minyak turun

"Meski banyak pihak memprediksi permintaan minyak tidak akan setinggi sebelumnya, industri minyak dan gas harus berkembang. Kompleks kilang terintegrasi dan petrokimia bisa jadi salah satu solusi," kata Menko Luhut Pandjaitan.

Menko Luhut pun mendorong pengembangan industri petrokimia untuk mengoptimalkan produksi bahan kimia dari industri migas seperti yang dilakukan oleh Hengli dan Xinjiang Petrochemicals. Saudi Aramco juga disebutnya sedang mengerjakan teknologi serupa yang lebih maju.

"Industri petrokimia akan menyediakan bahan untuk berbagai produk seperti plastik, film, serat, mainan, suku cadang otomotif, wadah makanan, ban dan bahkan farmasi," kata Menko Luhut Pandjaitan.

Baca juga: BKPM: Pembebasan lahan proyek kilang Pertamina-Rosneft hampir rampung

Menko Luhut juga menyebut Pertamina berencana untuk jadi bagian dari industri petrokimia dan menargetkan untuk bisa jadi perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia pada 2030, di mana salah satu produk hasil industrinya mencakup produk farmasi.

"Ini akan mendukung visi Indonesia untuk bisa memiliki kemandirian yang lebih luas akan bahan baku obat-obatan. Sektor dengan pasar farmasi 8 miliar dolar AS, di mana 11 persen obat-obatannya diimpor. Bahkan sebagian besar diimpor senilai 1,9 miliar dolar per tahun," kata Menko Luhut.

Baca juga: Restrukturisasi Pertamina tuntutan sebagai industri migas dunia

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Dongkrak perekonomian dengan pengelolaan potensi maritim yang optimal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar