Ribuan warga mengungsi dari 10 desa di Lembata dipulangkan ke rumah

Ribuan warga mengungsi dari 10 desa di Lembata dipulangkan ke rumah

Sejumlah anggota Basarnas mengendong seorang pengungsi saat mengevakuasi warga korban erupsi gunung Ili Lewotolok yang masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) III di kecamatan Ile Ape Timur, NTT Kamis (3/12/2020). ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.

memudahkan kami untuk mendistribusikan bantuan
Lewoleba (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lembata memulangkan dari tempat pengungsian ribuan warga dari 10 desa yang tidak masuk dalam daerah zona merah namun sempat dievakuasi saat erupsi gunung Ili Lewotolok pada 29 November lalu.

"Ada ribuan warga yang kita kembalikan ke 10 desa. Untuk datanya masih kita data lagi, namun dipastikan bisa mencapai ribuan," kata Bupati Lembata Eliyaser Yentji Sunur kepada wartawan di Lewoleba, Kabupaten Lembata, Jumat.

Ia menyebutkan warga dari 10 desa yang akan dipulangkan itu antara lain desa Mureone, Latanbutun, Kolontobo, Riangbao, desa Petuntawa, desa Beutaran, desa Tagawati, desa Dulitukan, Palilolon serta desa Kolipadan.

Orang nomor satu di Kabupaten Lembata itu mengatakan setelah warga dari 10 desa itu dipulangkan, pengungsi yang saat ini berada di rumah-rumah warga bisa dijemput untuk datang ke lokasi pengungsian yang sudah ditinggalkan oleh pengungsi yang lain.

Hal ini dikarenakan banyak pengungsi yang hingga saat ini belum terdata dan belum didata oleh pemerintah daerah setempat karena sulit menjangkau ke rumah-rumah warga.

Baca juga: Masker kebutuhan mendesak pengungsi erupsi Gunung Ili Lewotolok

Baca juga: Bertolak ke NTT, Kepala BNPB tinjau penanganan erupsi Ili Lewotolok


"Ini akan memudahkan kami untuk mendata pengungsi serta memudahkan kami untuk mendistribusikan bantuan yang hingga kini terus berdatangan dari berbagai daerah untuk korban bencana Ili Lewotolok," tambah dia.

Proses pengembalian ribuan warga dari 10 desa itu akan mulai dilakukan pada Sabtu (5/12) besok setelah pihaknya mendata jumlah pengungsi yang akan dikembalikan.

Sementara itu terkait apakah sejumlah pengungsi yang akan dikembalikan itu akan menjalani tes cepat terlebih dahulu atau tidak, bupati mengatakan bahwa pihaknya hanya akan memilih yang ada gejala sakit.

"Mengingat alat rapid tes kami hanya 200 dan yang pulan itu ribuan, maka kami hanya akan memeriksa yang ada gejala saja. Kalau tidak ada gejala sakit tidak akan kami periksa," tambah dia.

Baca juga: Erupsi gunung Ili Lewotolok tak ada kaitan dengan gunung api lain

Baca juga: Kodam IX/Udaya kirimkan tim bantu korban terdampak erupsi Lewotolok

Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kilas NusAntara Pagi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar