PBB: Konflik Tigray dapat picu destablisasi lebih luas di Ethiopia

PBB: Konflik Tigray dapat picu destablisasi lebih luas di Ethiopia

Pengungsi Ethiopia yang melarikan diri dari perseteruan yang sedang terjadi di daerah Tigray, menunggu untuk mendapatkan makanan di kamp Um-Rakoba, di perbatasan Sudan-Ethiopia, di negara bagian Al-Qadarif, Sudan, Senin (23/11/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohamed Nureldin Abdallah/foc/cfo/aa.

New York (ANTARA) -
Konflik di wilayah Tigray Ethiopia dapat memicu destablisasi yang lebih luas di negara itu, kepala bantuan PBB Mark Lowcock mengatakan kepada Dewan Keamanan pada Rabu ketika dia memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan yang mengerikan di utara akan memburuk.

Ratusan ribu orang di Tigray belum menerima bantuan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak dapat sepenuhnya menilai situasi karena tidak memiliki akses penuh, menurut catatan Lowcock untuk pertemuan virtual tertutup dari 15 anggota Dewan Keamanan.

Dia mengatakan ada laporan tentang meningkatnya ketidakamanan di tempat lain, yang mungkin disebabkan oleh kekosongan yang diciptakan oleh pengerahan kembali pasukan Ethiopia ke Tigray.

Baca juga: PM Ethiopia: Operasi militer di Tigray rampung
Baca juga: Sekjen PBB desak pemimpin Ethiopia lindungi warga sipil di Tigray


PBB prihatin tentang potensi destablisasi nasional dan regional yang lebih luas.

Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed memerintahkan serangan udara dan serangan darat pada 4 November terhadap penguasa Tigray - Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) - karena menentang otoritasnya. Tentara federal Abiy menggulingkan TPLF dari ibu kota regional Mekelle, tetapi pertempuran dengan skala rendah terus berlanjut.

Di wilayah berpenduduk lebih dari lima juta orang itu, ribuan orang diyakini telah tewas dan 950.000 orang telah meninggalkan rumah mereka sejak pertempuran dimulai.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres "sangat prihatin" atas situasi di Tigray, kata seorang juru bicara PBB pada Selasa malam.

Lowcock mengatakan pemerintah Abiy menguasai antara 60 persen dan 80 persen wilayah di Tigray, tetapi tidak memiliki komando penuh atas pasukan etnis Amhara dan Eritrea yang juga beroperasi di wilayah tersebut.

Puluhan saksi mengatakan pasukan Eritrea berada di Tigray untuk mendukung pasukan Ethiopia, meskipun kedua negara menyangkal hal itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menerima laporan bahwa polisi beroperasi pada sebagian kecil dari kapasitas mereka sebelumnya.

Lowcock meyakini bahwa jika perlindungan dan bantuan tidak segera ditingkatkan maka situasi kemanusiaan akan memburuk.

Dia mengatakan ada tuduhan kekerasan seksual dan berbasis gender.

Beberapa pejabat senior PBB baru-baru ini mengunjungi Ethiopia untuk mendorong akses yang lebih besar ke Tigray.

Lowcock berharap akan ada kemajuan konkret dalam beberapa hari mendatang untuk memungkinkan bantuan ditingkatkan.

Sumber : Reuters
​​​​​​​
Baca juga: Tentara Ethiopia bunuh 15 pemberontak Tigray, tangkap delapan lainnya
Baca juga: Konflik di Tigray berlanjut, ratusan warga sipil dilaporkan tewas

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar