Ketua Banggar nilai perlu reorientasi penopang pertumbuhan ekonomi

Ketua Banggar nilai perlu reorientasi penopang pertumbuhan ekonomi

Ilustrasi - Pekerja menyelesaikan pembuatan alat pengolahan hasil pertanian, perkebunan dan alat mengolah pakan ternak, perikanan serta perindustrian di bengkel Sang General Industri (SGI), Aceh Besar, Aceh, Kamis (24/9/2020). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/nz. (ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA)

Jadi, perlu ada proses hilirisasi dari produk produk komoditas, sehingga makin menopang industri pengolahan
Jakarta (ANTARA) - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah menilai perlu reorientasi penopang pertumbuhan ekonomi dengan mempersiapkan sektor andalan baru selain sektor komoditas.

"Dunia telah berubah dengan cepat, inovasi teknologi telah sedemikian cepat pula. Tidak selamanya kita bertumpu pada hasil hasil komoditas sebagai penopang pertumbuhan ekonomi seperti masa lalu," ujar Said melalui keterangan di Jakarta, Rabu.

Menurut Said, reorientasi penopang pertumbuhan ekonomi harus dilakukan pada 2022 hingga 2024, caranya dengan menyiapkan "exit strategy" merambah sektor baru yang padat modal, teknologi, sekaligus tenaga kerja untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Politisi senior PDIP itu menuturkan, pemulihan ekonomi nasional harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat industri dalam negeri.

Selain memaksimalkan hilirisasi produk komoditas, pemerintah perlu memilih industri unggulan sebagai topangan ke depan. Sebab tidak semua sekaligus bisa dikerjakan oleh pemerintah.


Baca juga: Ketua Banggar: Keberhasilan vaksinasi jadi penentu pemulihan ekonomi


"Setidaknya kita mampu mengurangi berbagai komoditas impor yang memberi kontribusi besar pada defisit transaksi berjalanan nasional," kata Said.

Dalam RPJMN 2020-2024, proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2022 ditargetkan sebesar 5,4 persen (rendah), 5,7 persen (sedang), dan 5,9 persen (tinggi). Sedangkan pada 2023 target pertumbuhan ekonomi 5,5 persen (rendah), 5,9 persen (sedang) dan 6,2 persen (tinggi). Sementara target pertumbuhan ekonomi pada 2024 sebesar 5,5 persen (rendah), 6,1 persen (sedang) dan 6,5 persen (tinggi).

"Saya kira, asumsi pertumbuhan ekonomi pada rentang 2022-2024 yang dibuat sebelum pandemi COVID-19 ini masih cukup relevan untuk dijadikan acuan, terutama pada range rendah," ujar Said.

Asumsi tersebut masih mengandalkan pada tumpuan sektor komoditas. Terlebih adanya tren penggunaan nikel sebagai komoditas bagi penopang industri otomotif dan elektronik dunia dan program konversi biodiesel yang ditopang oleh sawit.


Baca juga: Ketua Banggar DPR: Ekonomi Indonesia masuki fase titik balik


"Jadi, perlu ada proses hilirisasi dari produk produk komoditas, sehingga makin menopang industri pengolahan," kata Said.

Selanjutnya Said menambahkan, apabila ingin mendorong target pertumbuhan ekonomi tinggi pada tahun-tahun mendatang, maka pemulihan sektor UMKM sekaligus transformasi ekonomi menjadi kebutuhan yang mutlak.

"Transformasi ekonomi UMKM ke digital saja tidak cukup. Perlu lebih sistemik dengan mengintegrasikan produk produk UMKM sebagai rantai pasok kebutuhan logistik nasional dan penopang industri," ujarnya.


Baca juga: Ekonom prediksi ekonomi 2021 tumbuh positif capai 3,9 persen

Baca juga: Presiden Jokowi ajak bersatu wujudkan prediksi ekonomi positif 2021

Baca juga: Sri Mulyani: Program PEN jadi pendorong pertumbuhan kuartal I 2021

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Surplus neraca perdagangan Maret, indikasi pertumbuhan ekonomi sehat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar