Kasus kematian pasien COVID-19 di Kota Madiun cukup tinggi

Kasus kematian pasien COVID-19 di Kota Madiun cukup tinggi

Ilutrasi - Sejumlah relawan dari PMI dan BPBD Kota Madiun melakukan pemakaman pasien positif COVID-19 yang meninggal dunia. ANTARA/HO-Diskominfo Kota Madiun

Madiun (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Madiun, Jawa Timur mencatat kasus kematian pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di wilayah setempat tergolong tinggi yakni mencapai 102 orang dari total kasus sebanyak 1.578 orang.

"Angka kematian pasien kasus positif COVID-19 di Kota Madiun terus meningkat. Saat ini, total kasus kematian sudah mencapai 102 orang per Jumat ini," ujar Dokter Puskesmas Tawangrejo, Dinas Kesehatan, Pertambahan Penduduk, dan Ketahanan Pangan Kota Madiun Nadiya Auliya Nabila di Madiun, Jumat (5/3).

Menurut dia, salah satu penyebab tingginya kasus kematian pasien COVID-19 di Kota Madiun, kebanyakan disebabkan karena memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Terlebih lagi, meski memiliki komorbid, pasien COVID-19 bersangkutan memilih menjalani isolasi mandiri di rumah. Sehingga, jika terjadi kegawatan karena komorbidnya, terlambat mendapatkan penanganan medis.

"Biarpun rumah memungkinkan untuk dijadikan tempat isolasi mandiri, pasien COVID-19 dengan komorbid baiknya melakukan isolasi di rumah sakit. Sebab, kita tidak pernah tahu kapan komorbidnya itu memburuk," kata dr Nadiya Auliya.

​​​​​​Baca juga: Klaster keluarga dominasi penyebab penyebaran COVID-19 di kota Madiun

Sebab, risiko kematian pasien COVID-19 dengan penyakit penyerta cukup tinggi. Rata-rata memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, jantung, stroke, maupun asma.

Nadiya menyebut mereka sejatinya bisa melakukan isolasi di rumah asal tidak memiliki riwayat sesak atau membutuhkan alat pernafasan. Namun, yang bersangkutan harus dipastikan dalam kondisi baik. Misalnya, gula darahnya sedang tidak tinggi atau kelewat rendah.

"Yang bersangkutan harus bisa bertanggung jawab atas kondisinya masing-masing. Saat memang butuh perawatan lebih lanjut, baiknya segera ke rumah sakit," katanya.

Hal tersebut penting mengingat banyaknya kasus kematian karena terlambat dalam perawatan. Kondisi pasien yang dibawa ke rumah sakit sudah kelewat akut atau kritis.

Memang, ada juga pasien COVID-19 yang meninggal tanpa disertai komorbid. Namun, persentasenya kecil. Kebanyakan mereka yang meninggal karena memiliki penyakit penyerta. Karenanya, disarankan untuk tetap menjalani perawatan di rumah sakit agar bisa ditangani secara maksimal.

Baca juga: Pemkot klaim PPKM skala mikro turunkan kasus COVID-19 di Madiun

Sesuai data, di Kota Madiun kasus COVID-19 hingga Jumat (5/3), mencapai 1.578 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 1.353 orang di antaranya telah sembuh, 53 orang lainnya masih dalam perawatan, 70 orang isolasi mandiri, dan 102 orang meninggal dunia.

Tercatat penambahan hari Jumat (5/3), kasus konfirmasi baru bertambah 19 orang, sembuh 38 orang, dan meninggal dunia satu orang.

Baca juga: Sebanyak 150 warga Kota Madiun jalani tes usap massal
Baca juga: Jatim siapkan kampung tangguh semeru sebagai embrio PPKM mikro

Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pemkot Madiun akan terapkan WFH bergiliran

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar