Gaya bekerja fleksibel dan remote masih jadi tren di masa depan

Gaya bekerja fleksibel dan remote masih jadi tren di masa depan

Ilustrasi. (Pexels)

Jakarta (ANTARA) - Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) melalui survei "ICAEW Future of Work Report" menunjukkan bahwa gaya bekerja yang berbeda dan fleksibel akan menjadi tren di masa depan, dibandingkan dengan masa sebelum pandemi.

Direktur Regional ICAEW, Greater China dan Asia Tenggara, Mark Billington mengatakan bahwa ada tiga faktor yang terbukti berdampak positif pada dunia kerja selama pandemi, yaitu percepatan proses transformasi digital, jam kerja fleksibel, dan peningkatan kesempatan untuk bekerja dari jarak jauh (remote working).

"Meskipun bekerja secara jarak jauh telah membawa beberapa dampak positif... bisnis dan perusahaan perlu mempertimbangkan manfaat ini secara bersamaan dengan tantangan yang turut hadir dalam jangka panjang, terutama area di mana interaksi tatap muka tetap memegang peranan penting," kata Billington dalam keterangannya, Selasa.

"Hasil survei kami menggarisbawahi perlunya lebih banyak inisiatif dalam pendampingan, bimbingan dan pelatihan formal untuk talenta baru, serta cara baru untuk terlibat secara virtual baik secara internal maupun eksternal," imbuhnya.

Baca juga: Muncul alergi kulit selama WFH? Mungkin gara-gara stres

Dalam laporan tersebut, ICAEW menemukan bahwa tiga faktor teratas yang berdampak positif pada kehidupan kerja responden adalah akselerasi dalam transformasi digital (dikatakan sebesar 87 persen), jam kerja fleksibel (dikatakan sebesar 74 persen), dan peningkatan kerja jarak jauh (dikatakan sebesar 66 persen).

Namun, responden juga menyoroti tantangan signifikan dalam menghadapi pengaturan kerja baru, seperti kesulitan dalam melibatkan klien baru dan membangun hubungan (dikatakan oleh 61 persen), menjaga moral staf (57 persen) dan mempertahankan klien dan hubungan yang sudah ada (54 persen).

Melalui seminar daring bersama ASEAN Federation of Accountants (AFA), banyak yang berpendapat bahwa ada juga tantangan untuk menerima bakat baru, meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi kelelahan (burn-out) di antara karyawan, dan cara mempertahankan kontak dengan konsumen dan komunikasi yang kuat dengan para klien.

Sejalan dengan hasil survei internasional, survei ini menemukan bahwa lebih dari sembilan dari sepuluh responden percaya bahwa kehidupan kerja akan terus terlihat berbeda setelah pandemi (92 persen), sementara hampir delapan dari sepuluh responden menyatakan bahwa kehidupan pekerjaan mereka sangat dipengaruhi oleh pandemi (79 persen).
 
“Dalam banyak hal, ini semua dimulai dengan mengadopsi pendekatan yang mengutamakan manusia, tentang cara menumbuhkan pengalaman kerja digital yang efisien dan memuaskan sambil mengatasi masalah tertentu seperti kurangnya komunikasi tatap muka dengan karyawan dan klien baru," kata Direktur Eksekutif, AFA, Aucky Pratama. 

Baca juga: 70 persen karyawan khawatir soal privasi data saat WFH

Baca juga: Ide mainan edukasi anak di kala WFH

Baca juga: Dynabook Satellite Pro L40-G jadi andalan saat WFH

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Disnakertrans-E DKI minta prokes di perkantoran diperketat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar