Kapolda tegaskan guru berjasa cerdaskan warga pedalaman Papua

Kapolda tegaskan guru berjasa cerdaskan warga pedalaman Papua

Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri. ANTARA/Evarianus Supar.

Kapolda Papua membantah klaim sepihak kelompok bersenjata separatis Papua bahwa dua orang guru yang ditembak mati di Beoga itu mata-mata aparat TNI dan Polri.
Timika (ANTARA) - Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Polisi Mathius D Fakhiri menyebut para guru yang bertugas di daerah pedalaman Papua sangat berjasa dalam upaya mencerdaskan generasi muda di wilayah itu agar mereka tidak terbelakang dalam berbagai aspek kehidupan.

Penegasan Kapolda Papua itu sekaligus membantah klaim sepihak kelompok bersenjata separatis Papua bahwa dua orang guru yang ditembak mati di Beoga, Kabupaten Puncak pekan lalu selama ini menjadi mata-mata aparat TNI dan Polri.

"Kedua korban itu merupakan guru. Guru-guru ini hadir di sana untuk mencerdaskan generasi muda. Sumber daya manusia yang ada di Tanah Papua lebih khusus lagi di pegunungan itu dibentuk oleh para guru. Jadi kalau ada tuduhan semacam itu, bagi saya itu hanya manusia-manusia yang tidak punya nurani," kata Irjen Fakhiri di Timika, Senin.

Kapolda Papua mengingatkan kelompok separatis bersenjata agar tidak mencari dalil atau pembenaran atas tindakan tidak manusiawi dan kekerasan yang mereka lakukan.

"Jangan mengaitkan ke hal-hal yang lain. Mereka yang melakukan tindakan itu adalah orang-orang yang tidak berperikemanusiaan, saya mau katakan bahwa perbuatan mereka sangat biadab," ujar Irjen Fakhiri yang merupakan putra asli Papua itu.
Baca juga: Jenazah 2 guru korban penembakan KKB dievakuasi ke Timika
Baca juga: Kapolda Papua: Guru korban penembakan KKB di Beoga bertambah
Kapolda menegaskan seharusnya warga pedalaman Papua merasa bersyukur karena masih ada guru-guru, tenaga medis dan pekerja kemanusiaan lainnya yang mau datang mengabdi di daerah mereka yang terisolir, jauh dari segala macam kemewahan duniawi, semata-mata untuk melayani masyarakat setempat.

"Seorang guru itu sangat penting, demikian pun tenaga medis sangat penting. Hamba-hamba Tuhan itu juga sangat penting untuk mengajarkan masyarakat yang ada di Tanah Papua, apalagi di daerah pelosok seperti di Beoga itu. Jarang ada guru yang mau berdinas di daerah-daerah seperti itu. Harusnya mereka melindungi, bukan malah membunuh guru-guru itu," ujarnya.

Tokoh masyarakat Toraja di Kabupaten Mimika Daud Bunga juga mengungkapkan hal yang sama.

"Profesi guru itu sangat mulia, mereka hadir untuk mendidik anak-anak bangsa, termasuk anak-anak asli Papua. Tidak semua guru bisa betah bertugas di pedalaman Papua sampai belasan bahkan puluhan tahun," kata Daud yang juga merupakan Ketua Komisi A DPRD Mimika.

Daud mengecam keras pembunuhan terhadap dua orang guru yang merupakan warga masyarakat Toraja yang bertugas di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak oleh kelompok separatis bersenjata pada pekan lalu.
Baca juga: Polisi: Guru Yonatan Renden pergi cari terpal saat ditembak KKB
Baca juga: Disdik Papua sesalkan penembakan guru di Beoga
"Kami mengutuk keras kejadian ini dan berharap aparat keamanan bisa memberikan perlindungan maksimal kepada semua petugas pemerintah yang bertugas di daerah pedalaman. Mereka semua adalah masyarakat sipil yang hanya mencari nafkah dan menjalankan tugas profesinya sebagai guru. Mengapa mereka mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi," ujarnya.

Pada pekan lalu, dua orang guru yang bertugas di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak tewas tertembak oleh KKB yang teridentifikasi merupakan kelompok Nau Waker alias Tidak Jadi Waker.

Guru Oktovianus Rayo (42) yang sudah bertugas 10 tahun di SD Kelmabet, Distrik Beoga ditembak KKB saat sedang menjaga kiosnya di kompleks perumahan guru SMP Negeri 1 Beoga pada Kamis (8/4).

Isteri almarhum Oktovianus diketahui merupakan guru yang bertugas di SMP Negeri 1 Beoga.

Almarhum Oktovianus terkena tembakan peluru dari jarak dekat mengenai rusuk hingga menembus perut.

Berselang sehari kemudian, Yonathan Renden, guru SMP Negeri 1 Beoga juga meregang nyawa setelah diberondong tembakan oleh KKB.

Saat itu Yonathan bersama Kepsek SMP Negeri 1 Beoga baru keluar dari rumah yang berada di ujung Bandara Beoga untuk mengambil terpal, hendak membungkus jenazah almarhum Oktovianus.

Almarhum Yonathan terkena tembakan peluru KKB di bagian dada kiri dan dada kanannya.
Baca juga: Kapolda sebut puluhan warga minta dievakuasi dari Beoga

Pewarta: Evarianus Supar
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar