London (ANTARA News) - Alunan suara musik orkestra rumpun bambu arumba Saung Angklung Udjo dari kota Bandung, Jawa Barat menembus di berbagai pelosok kota di Tunisia bahkan sampai ke Gurun Sahara, Tunisia.

Tampil dalam berbagai festival yang digelar di Tunisia selama musim panas, kelompok musik Saung Angklung Udjo di bawah pimpinan Taufik Hidayat Udjo, bagaikan duta budaya yang mendapat sambutan dimana-mana.

Taufik Hidayat Udjo kepada koresponden Antara London mengakui bahwa ia merasa bangga bisa membawa nama Indonesia di Tunisia hingga ke pelosok pelosok. "Bermain di setiap theatre terbuka yang berada di setiap kota di Tunisia membawa kenangan tersendiri," ujar putra Mang Udjo yang berhasil melestarikan dan memperkanalkan musik angklung diberbagai Negara.

Apalagi bila alat musik angklung berhasil diakui oleh UNESCO sebagai warisan bukan benda menjadi salah satu warisan budaya Indonesia tentunya Mang Udjo merasa bangga dengan jerih payanya itu .

Dutabesar RI untuk Tunisia Muhamad Ibnu Said mengakui kehadiran Saung Angklung Udjo di Tunisa menjadi duta budaya Indonesia dalam rangkaian perayaan 50 tahun Hubungan diplomatik Indonesia dan Tunisia.

Dubes juga merasa kagum dengan bertebarannya theatre terbuka di seluruh pelosok kota di Tunisia. "Senangnya bila di tanah air juga ada panggung terbuka seperti ini yang bisa memberikan hiburan kepada rakyat," ujar diplomat karir.

Theater terbuka yang ada di setiap kota meskipun hanya berupa lapangan terbuka dengan panggung dan tempat duduk dari batu dengan dikelilingi tembok sering kali menampilkan kelompok musik dari berbagai Negara.

Saat tampil di theatre terbuka di Theatre de plain air di kompleks Musee d?el-Ksour, Medenine, ibukota Propinsi Medenine, terletak sekitar 482km selatan kota Tunis adalah kota kecil yang merupakan starting point dari berbagai jalur wisata Sahara di kawasan Le Sud Tunisia Selatan.

Di kota ini terdapat beberapa ksour (istana) dan kompleks pemukiman serta gudang stock hasil pertanian suku bangsa Berber yang oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan ghorfa.

Ksour dan ghorfa dapat ditemui di beberapa daerah kawasan selatan Tunisia. Ksour di kota Medenine ini adalah peninggalan abad XVII telah beralih fungsi menjadi museum menjadi saksi berhasilnya diplomasi yang dilancarkan Saung Angklung Udjo.

Direktur Festival du Medenine, Mohsen Abdelkadir,dan Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Medenine, Fethi Boukouba serta Asisten Walikota dan Delegue Kota Medenine sangat kagum akan penampilan musik yang berasal dari bamboo.


Kuis Indonesia

Minister Counsellor pada KBRI Tunis, Chandra Hasan mengatakan pementasan musik angklung di kota Medenine merupakan rangkaian perayaan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Tunisia.

KBRI Tunisia tidak menyia nyiakan kesempatan untuk juga mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Tunisia disela sela pementasan dengan diselingi Kuis Indonesia yang dibawakan pembawa acara dari KBRI Tunis, Hidayat Antemas.

Bagi penonton yang berhasil menjawab pertanyaan mendapat hadiah berupa kaos yang bertuliskan Visitez L`Indonesie dengan gambar wayang kulit dan bendera merah putih. "Kami memesan khusus dari Indonesia untuk promosi yang mudah dikenang," ujar Dubes Ibnu Said.

Setiap penampilannya Saung Angklung Udji selalu membawakan Medley Nusantara yang berisi lagu-lagu rakyat dari Aceh hingga Papua, dan bahkan lagu dangdut, dan musik pop barat, serta lagu-lagu Arab berhasil menarik para pengunjung.

Dibuka dengan musik-musik instrumental, dengan irama berbeat cepat berhasil menarik antusiasme penonton yang bertepuk tangan mengikuti irama.

Dan sebagaimana pada penampilan sebelumnya, orkes arumba Saung Angklung Udjo juga membawakan lagu-lagu lokal Tunisia dan lagu-lagu populer Arab dan berhasil memancing reaksi mereka untuk ikut menyanyi dan bergoyang dan memberikan standing ovation di akhir pertunjukan.

Pada penampilan di kota Gabes, bertempat di Le theatre de plain air (teater terbuka) Kota Gabes yang dihadiri Direktur Festival kota Gabes, Lasaad Boukhcina, dan Kepala Dinas kebudayaan Propinsi Gabes, Hedi Amri , Saung Angklung Udjo juga berhasil memikat masyarakat kota Gabes.

Sekretaris I dan Pejabat Fungsi Ekonomi KBRI Tunis, Boy Dharmawan, yang ikut menyaksikan antusiasme penonton mengakui bahwa mereka benar benar terhibur oleh kehadiran seniman musisi Indonesia.

Setiap pementasan kelompok musik Saung Angklung Udjo dibawa pimpinan Taufik Hidayat Udjo selalu menampilkan Medley Nusantara, lagu-lagu Indonesia dan juga lagu-lagu Arab.

Lia Laila Sari (20) , penyanyi dari Saung Anglung Udjo merasa senang dan puas setiap kali pementasan. "Rasanya puas dan senang sekali. Penontonnya tidak begitu banyak, namun kali ini adalah yang terbaik selama kita pentas di Tunisia," komentarnya.

"Yang paling seru, mereka ikut naik ke panggung untuk menyanyi dan bergoyang bersama," ujar gadis belia yang belajar anglung sejak usia dini.

Untuk menarik penonton Saung Angklung Udjo juga menyelipkan lagu lagu lagu berbahasa Arab, Lia tampil berduet dengan M. Yazid dari KBRI Tunis.

Namun di kota Gabes, paduan ini menjadi trio karena setiap kali sebuah lagu Arab dimainkan, selalu ada dari penonton yang meminta microphone dan ikut menyanyi, ujar M Yazid.

Lia, yang menjadi pembawa acara dan instruktor angklung interaktif di Saung Angklung Udjo . Dalam beberapa pementasan terakhir di Tunisia, seperti halnya di kota Gabes tadi malam, dia beralih fungsi menyanyi.


Budaya Arab yang akrab

Budaya dan musik Arab yang ditampilkan oleh kelompok musik Saung Angklung Udjo sangat dikagumi oleh para penonton yang mengakui bahwa ternyata budaya dari Arab juga sangat dekat dengan music Indonesia.

Belgacem Abbes, mahasiswa tahun kedua Institut Superieur des Arts et Metiers de Gabes jurusan Ilmu Musik mengungkapkan rasa kagumnya terhadapa permainan Saung Anglung Udjo dan alat-alat musik mereka yang terbuat dari bambu itu. "Luar biasa. Sangat menarik melihat kecerdasan dan ketelitian pembuatnya yang dapat menggubah potongan-potongan kayu ini menjadi alat-alat musik yang indah."

Hadir bersama beberapa temannya dari kalangan mahasiswa musik, Belgacem Abbes mengakui musik tradisional Indonesia memiliki repertoire lebih banyak. "Kami tahu Indonesia begitu kaya akan budaya dan budaya musik, dan kami menunggu hal itu malam ini," katanya.

Dia juga merasa kagum dengan kebhinekaan Indonesia dengan pulau, suku dan bahasanya yang melahirkan genre dan bahkan notasi musik yang berbeda dari satu daerah ke daerah lainnya. Bahkan lagu Arab yang sudah dikenal penonton memiliki kemiripan dengan lagu-lagu Indonesia.

Repertoire yang terasa sangat arabesque ini antara lain karena nomor-nomor instrumental yang dibawakan, seperti Rintak Rebana dan Spirit of Peace, juga memiliki penggalan-penggalan bernuansa arabesque, yang menjadi gambaran bahwa Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia juga menerima budaya Arab-Islam dan mengakulturasikannya ke dalam budaya lokal hingga makin memperkaya budaya Indonesia.

Hal ini menggambarkan sejarah hubungan yang sangat dekat yang sudah terjalin sejak zaman dahulu antara Nusantara dengan Dunia Arab.

"Terasa sekali memang nuansa arabesque dalam lagu Rintak Rebana, notasinya sesuai dengan Maqam Hijazi," ujarnya.

Maqam Hijazi adalah salah satu dari maqamat musik Arab yang melodinya bernada sedih. Musik Arab mengenal maqamat atau tata melodi, di antaranya Bayati, Rast, Nahawand, Jaharka, Sabaa, yang menjadi dasar melagukan Al-Quran.

Kamel Bouchmaoui, salah seorang organizer, mengungkapkan rasa kagumnya. "Mumtaaz," katanya. Dia memuji penampilan Sang Anglung Udjo yang dapat berinteraksi dengan publik secara baik. "Pementasan ini jadinya hidup sekali. Penonton ikut menyanyi dan naik ke panggung untuk bergoyang."

Sementara Hannen el-Nouri, salah seorang gadis yang ikut naik bergoyang di panggung, saat ditanya satu kata saja untuk menggambarkan perasaannya tentang acara malam ini, dia mencetus "Sangat mengesankan. Oh no, no.. tidak terlupakan!?" (ZG/K004)

Oleh Oleh Zeynita Gibbons
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010