Epidemiolog nilai Sumsel perlu tes acak COVID-19

Epidemiolog nilai Sumsel perlu tes acak COVID-19

Arsip Petugas kesehatan mengambil sampel salah satu peserta pada Swab Test COVID 19 gratis BNI berbagi di Jakabaring Sport City Palembang, Sumsel, Senin (8/5/2020). (ANTARA/Feny Selly/20)

Palembang (ANTARA) - Epidemiolog Universitas Sriwijaya Dr. Iche Andriany Liberty menilai Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan perlu melakukan tes acak COVID-19 untuk mendeteksi kawasan publik yang paling rentan menjadi kluster baru.

Dr. Iche mengatakan hingga saat ini belum pernah ada informasi kemunculan kluster baru seperti di kawasan wisata maupun mal di Sumsel, karena memang sulit diungkap jika tidak di tes acak terutama di Kota Palembang yang kasus positifnya paling tinggi.

"Sewaktu-waktu perlu dilakukan tes acak, apalagi yang bukan KTP domisili Palembang, misalnya," kata Dr. Iche di Palembang, Kamis.

Tes acak juga untuk mengantisipasi fenomena gunung es kasus COVID-19 di Sumsel, karena ia meyakini rasio pelacakan dan pemeriksaan di Bumi Sriwijaya itu belum mencakupi seluruh potensi kasus.

Baca juga: Wakil Ketua Komisi V DPRD Sumsel nilai Kota Palembang perlu jam malam

Baca juga: Dinkes Palembang vaksin disabilitas dan orang gangguan jiwa


Sebab 80 persen kasus positif COVID-19 di Sumsel merupakan kasus tanpa gejala yang berpotensi menularkan COVID-19 ke orang lain.

Selain itu menurutnya, dengan tes acak di kawasan tertentu maka akan lebih mudah bagi pemerintah dalam mengambil tindakan yang lebih tegas terhadap pembatasan-pembatasan kegiatan.

Sementara Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Sumsel Yusri menyebut tes acak dapat dilakukan jika rasio tes usap telah memenuhi standar WHO yakni 1/1000 penduduk atau setara 10.000 jiwa per hari di Sumsel.

"Saat ini tes usap baru 500 sampel atau 200-300 orang per hari, artinya untuk yang wajib saja belum bisa dipenuhi," katanya.

Sementara tidak adanya laporan kluster wisata, kegiatan-kegiatan dan pusat perbelanjaan atau ruang publik lainnya di Sumsel hingga kini karena kontak erat kasus-kasus yang ada masih dominan dari kluster keluarga, kata dia.

"Misalnya ada orang dari acara buka bersama lalu dia pulang ke rumah ternyata menularkan ke anggota keluarganya, maka jadi kluster keluarga, pola-pola seperti ini yang banyak terjadi di Sumsel," jelas Yusri.

Ia memang tidak menampik adanya kasus-kasus tanpa gejala yang mungkin tidak terdeteksi dan berkeliaran, namun selagi masyarakat patuh menerapkan protokol kesehatan, menurutnya, penyebaran COVID-19 dapat ditekan.*

Baca juga: Di Sumsel, temuan kasus COVID-19 tanpa riwayat kontak kian banyak

Baca juga: Sumsel target tingkat keterisian rumah sakit 30 persen

Pewarta: Aziz Munajar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sumsel antisipasi COVID-19, Wisma Atlet Jakabaring disiagakan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar