Palembang (ANTARA News) - Arsep Pajario (42), wartawan Sriwijaya Pos yang ditemukan tewas pada Jumat (17/9) diduga kuat dibunuh karena dilatarbelakangi perasaan sakit hati tersangka pelaku pembunuhan, SAP (20), terhadap korban.

Hal itu diungkapkan Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolres) Kota Palembang, Kombes Pol Cahyo Budi Siswanto, didampingi Waka Polres, AKBP Victor Manoppo, dan Kasat Reskrim Polres, Kompol Anissullah M Ridha, ketika menggelar konperensi pers di Mapolresta setempat, Selasa.

Ia mengatakan, penanganan kasus kematian Arsep yang sempat misterius itu, akhirnya terungkap pelaku serta motif pembunuhannya.

Menurut dia, hal yang melatarbelakangi tewasnya Arsep lantaran sakit hati tersangka SAP yang dipinta melayani hasrat seks korban sebagai penyuka sesama jenis tersebut.

"Karena tersangka menolak, lalu korban mengungkit-ungkit dan mencaci tersangka. Atas perlakuan itu tersangka mencekik Arsep, Selasa (14/9) petang, yang kemudian dimasukkan ke dalam kamar baru di rumah tersebut dikunci dari luar," ujarnya.

Ia menyampaikan, selain memang tersangka kooperatif atau mau mengakui perbuatannya membunuh Arsep, serta kejahatan lain yang dilakukannya dapat dengan mudah mengungkap perkara itu.

Dalam kasus tersebut, pihak berwajib menyita dua telepon seluler (ponsel) merek Nokia tipe E63 dan N81 yang diambil tersangka, uang Rp300.000 yang digunakan untuk membayar utang terhadap temannya, Deni Jamsbon (20), serta kamera digital dan handycam.

Selain itu, tersangka SAP membawa kunci rumah korban dan sempat dibuangnya di semak-semak berlokasi tidak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).

"Adapun barang milik korban berupa laptop yang diduga hilang, masih dalam tahap pencarian tim kami," ucapnya.

Ia mengungkapkan, atas peristiwa ini tersangka dijerat dengan Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pembunuhan, dan Pasal 365 KUHP, yakni tentang pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa orang dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun.

Selanjutnya, Kapolres Kota Palembang mengatakan, adapun hasil autopsi tim Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Mochamad Hoesin yang menyatakan limpa korban pecah, dan tidak disebabkan karena adanya unsur kekerasan.

Sementara ini hasil penyebab pecahnya limpa bisa disebabkan 3 hal, karena adanya kekerasan, sakit, dan juga kemungkinan tertular virus perapuh kekebalan tubuh/sindroma merapuhnya kekebalan tubuh (HIV/AIDS).

"Namun, apabila mengacu pada kekerasan, tidak terdapat bukti kekerasan pada jasad korban. Bisa saja karena jasad korban yang telah membusuk bari diketemukan," ungkapnya.

SAP selaku tersangka dalam kasus itu mengatakan, perbuatan tersebut karena dilatari sakit hati dengan korban.

Adapun penyebab sakit hati tersebut, dirinya enggan untuk menceritakan kepada pers. Bahkan, ia segera menghindar dari kerumunan wartawan, dan aparat lantas membawanya ke sel tahanan Markas Polres Kota Palembang.
(T.ANT-146/P003)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010