Jakarta (ANTARA News) - Di dalam pesawat Garuda GA 830 penerbangan Jakarta - Singapura, Jumat (27/8), perhatian saya tersita pada sebuah artikel di harian Republika yang dibagikan di pintu pesawat sebelum berangkat. Artikel itu berjudul "Saat Bepergian Puasa atau Tidak?".

Sore itu saya bepergian ke Singapura untuk membezoek dua sahabat yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit (RS) di Kota Singa itu. Satu sahabat di RS Mount Elizabeth, yaitu Yazirwan Uyun, mantan Direktur Utama Televisi Republik Indonesia (Dirut TVRI) yang kini anggota Komisi Penyiaran Indonesia(KPI). Satu lagi, seniman Franky Sahilatua di RS Singapura General Hospital. Franky, dulu terkenal sebagai penyanyin lagu balada yang mengawali debut di dunia musik tahun 1970-an lewat duet Franky & Jane.

Rupanya bukan cuma saya yang tertarik pada artikel di Republika itu, tetapi juga Wina Armada, teman satu perjalanan. Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Dewan Pers itu malah berinisiatif membawa Harian Republika. "Ini menarik kita bahas di Singapura nanti," ujarnya.

Teras berita (lead) artikel ditulis secara cursif (cursive) dengan huruf mencolok: "sebagian ulama mengatakan, termasuk orang sombong bila tidak mau menerima keringanan (boleh tidak berpuasa saat bepergian) yang diberikan oleh Allah SWT. Rukhshah.

Topik artikel itu sebenarnya tidak baru. Bahkan, referensinya dari kejadian di zaman Nabi Muhammad SAW sudah pernah kita dengar. Ayat yang menjadi rujukannya tidak terbantahkan, yaitu surat Al- Baqarah (2):185. "Islam menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran bagi umatnya."

Penulis artikel, Syahruddin El- Fikri, membahas hukum berpuasa saat bepergian. Dia mencontohkan seorang yang sakit parah, diperbolehkan untuk tidak berpuasa, termasuk orang tua yang telah uzur. Orang yang bepergian, juga diperkenankan untuk tidak berpuasa, hingga dia merasa aman di tempat tujuannya atau membayarnya setelah kembali ke kampung halamannya. Itulah keringanan (rukhshah) dari Allah bagi umat Islam.

Para ulama sepakat dalam hal ini, tulis Syahruddin. Meski terdapat perbedaan mengenai maksud bepergian dan tentang jaraknya. Tapi, Imam Syafii menetapkan, yang dimaksud dengan bepergian dan mendapatkan fasilitas dalam hukum Islam adalah yang menempuh jarak sekitar 80,67 kilometer (km). Jarak Jakarta- Singapura sekitar 1.000 km.

Referensi yang dikutip penulis di zaman Nabi Muhammad SAW ialah riwayat dari Jabir bin Abdullah RA, bahwasanya Rasulullah SAW pernah pergi ke Makkah pada tahun penaklukkan kota itu. Beliau berpuasa hingga tiba di Kura' Al Ghamin (sebuah lembah di Usfan), dan orang-orang turut berpuasa bersamanya.

Tiba-tiba ada seorang sahabat berkata, ada banyak orang yang merasa berat untuk meneruskan puasa dan mereka menunggu apa yang akan Rasulullah lakukan. Menanggapi itu, Rasulullah pun meminta secawan air, lalu meminumnya. Itu dilakukan Rasul setelah shalat Ashar dan yang menyaksikan kejadian tersebut langsung mengikuti rasul dan membatalkan puasanya. Tetapi, sebagian lainnya tetap berpuasa. Nabi pun bersabda: "Mereka itu adalah orang orang yang durhaka (HR Muslim Jilid II, halaman 785, Nasai, dan Tirmidzi).

Maksud perkataan durhaka ini, menurut Sayyid Sabiq, karena Rasul SAW telah menganjurkan untuk tidak berpuasa, tetapi mereka enggan dan tidak menerima keringanan yang diberikan. Sebagian ulama ada yang mengatakan, orang yang tetap berpuasa itu termasuk orang yang sombong, tidak mau menerima keringanan yang diberikan oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pencipta.

Ini tentu saja menarik dibahas. Sejauh pengalaman saya pribadi, selama ini bepergian ke mana pun di masa aktif bertugas sebagai wartawan, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri di masa bulan Ramadhan, tidak pernah saya memanfaatkan fasilitas tidak berpuasa tersebut.

Saya memohon ampun kepada Allah SWT jika di masa itu, yang muncul justru perasaan bangga bisa tetap menunaikan ibadah puasa walaupun dalam kondisi medan cukup berat. Kebanggaan itu tentu didorong oleh perasaan bahwa berkat pertolongan Allah SWT jua yang memberi kekuatan ekstra, dan terutama perasaan nyaman berpuasa selama Ramadhan.

Perasaan sama juga saya alami saat melaksanakan umrah Ramadhan yang medannya termasuk berat karena karena di bawah tekanan suhu panas yang bisa mencapai 45 derajat Celcius. Tetapi, bukankah berumrah di tanah suci termasuk ingin menikmati rasanya berpuasa dalam kondisi alam seperti itu?

Berpuasa di tanah suci dengan suhu udara di atas 40 derajat Celcius jelas amat berat bila dibandingkan dengan keadaan Tanah Air. Rangkaian ibadah yang begitu lengkap, seperti tarawih, shalat sunnah, ditambah dengan ceramah dan tausiah yang diadakan penyelenggara, jelas telah menyita waktu istirahat. Tapi, apakah itu bisa dianggap sebagai keadaan menyiksa dan tidak nyaman? Sungguh-sungguh saya merasakan katena pertolongan Tuhan jua semua keadaan itu terasa nikmat.

Yang sering saya manfaatkan keringanan Allah SWT ialah menjamak waktu shalat kalau bepergian di luar kota. Yaitu menggabung waktu Dhuzur dengan Azhar atau Maghrib dengan Isya. Tidak berpuasa saat bepergian, belum pernah saya lakukan.

Memang yang jadi soal: "Betulkah bila tidak menerima keringanan yang diberikan Allah SWT (tetap berpuasa saat bepergian) itu sombong?" Nauzubillah minzalik. Soalnya, sejak masih masih anak-anak orang tua menyuntikkan pesan bagaimana bagaimana buruknya perbuatan sombong itu.

Almarhumah ibu saya mengingatkan sikap sombong adalah perilaku yang tidak disukai Allah SWT. Begitu buruknya perbuatan sombong, orang sombong sendiri pun tidak menyukai orang sombong. Lalu, apakah tetap menunaikan ibadah puasa selama bepergian adalah ekspresi kesombongan? Terus terang saya. Tetapi, kalau memang benar adanya, saya memohon ampun.

Di Singapura kepingin juga mematuhi ulama, seperti ditulis Republika. Tetapi, saya dan juga Wina lagi-lagi gagal menemukan alasan kuat untuk tidak berpuasa. Ketidaknyamanan? Saya menggeleng. Wina mengangguk.


Niat sejak dari rumah

Kapankah kebolehan tidak berpuasa bagi orang yang bepergian? Dalam beberapa riwayat, jika memang di malam harinya sudah diniatkan untuk bepergian, maka dibolehkan untuk tidak berpuasa esok harinya, meskipun belum berangkat. Saya pernah dengar itu.

Tapi, waktu berangkat terpikir pun tidak untuk tidak berpuasa. Wina juga demikian. Maka, malam itu kami order kepada petugas room service hotel tempat kami menginap dua piring nasi goreng untuk makan sahur. Saat makanan diantar saya bertanya pada pelayan hotel, dan dia jawab subuh itu ada duapuluh lima orang memesan makan sahur di hotel tersebut.

Sabtu saya kembali ke Jakarta menumpang pesawat Garuda GA 833. Pesawat take off dari Bandara Changi pukul 18. 40 waktu setempat. Artinya lebih kurang setengah jam lagi saat berbuka tiba. Di kursi no 11 saya mencoba merenung-renungkan, adakah selama bepergian saya mengalami keadaan tidak nyaman. Tidak ada.

Saya merasa nikmat saja beraktivitas di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Pemandangan orang makan, pemandangan bebetapa pasangan berpelukan, dan bahkan berciuman di jalan-jalan yang kami lewati sekitar Orchad Road bukanlah sesuatu yang merusak kenyamanan.

Saya teringat pesan Ustad DR Ali Nurdin, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) lewat BlackBerry Messanger (BBM) yang membalas pertanyaan saya semalam. "Rukhshah itu adalah semacam dispensasi untuk tidak puasa, boleh diambil boleh tidak. Kita kembalikan kepada kenyamanan masing-masing saja. Intinya Allah menghendaki kemudahan bagi hambanya dalam melaksanakan ibadah," katanya.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, selama bepergian ini saya merasakan kenyamanan semata yang Engkau berikan. Sahabat Yuzirwan Uyun, yang saya bezoek lagi sebelum berangkat, sudah meninggalkan RS. Franky Sahilatua telah menunjukkan kemajuan setelah lebih sebulan dirawat. Wajahnya terlihat segar, suaranya bagus, dan yang istimewa menurut pengakuannya, sudah merasakan kenyamanan. Saya dan Wina beberapa saat lagi sudah akan berbuka puasa.

Belum tuntas saya memanjatkan doa atas semua nikmat itu, tiba-tiba muncul di depan saya purser Garuda, Sopyan Iskandar, dengan senyum yang mengembang. Pesawat sudah menuju landasan pacu (runway).

Kawan ini menyilahkan saya pindah tempat duduk ke depan ke kursi nomer satu first class. Dia berterus terang sudah lama sekali ingin bertemu. Saya pun memenuhi undangannya. Duduk di seat yang jauh lebih mahal dan tentu saja lebih nikmat dibandingkan kursi semula.

Tidak berapa lama kemudian, Sopyan yang baru saja terpilih memimpin Koperasi Karyawan Garuda (Kokarga) mengumumkan lewat pengeras suara bahwa saat tiba masa berbuka puasa. Ya Allah, tidak habis-habis nikmat Kau berikan pada hambaMu yang hina dina ini. (*)

*) H. Ilham Bintang (ilhambintangmail@yahoo.co.id, ilhambintang@cekricek.co.id; twitter: @ilham_bintang) adalah Sekretaris Dewan kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, dan Pemimpin Redaksi Tabloid Cek&Ricek (C&R).

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010