BNPT ungkap internet tantangan penanganan terorisme di masa pandemi

BNPT ungkap internet tantangan penanganan terorisme di masa pandemi

Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar. ANTARA/Evarianus Supar/aa.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengungkapkan tantangan utama penanggulangan terorisme di masa pandemi COVID-19 kini muncul di media internet.

"Selama masa pandemi grup teroris memaksimalkan aktivitas daring. Mereka aktif melakukan propaganda dan proses rekrutmen anggota bahkan soal pendanaan," kata dia melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Pandemi COVID-19 tidak hanya mengancam aspek kesehatan tetapi juga bagi keamanan dan ketertiban dunia. Kelompok teroris justru menciptakan tantangan baru misalnya lewat aktivitas teroris di dunia maya yang semakin masif.


Baca juga: BNPT serap aspirasi para pihak optimalkan pencegahan radikal-teroris

Menurut Boy, aktivitas di internet yang dilakukan teroris sangat mudah dilakukan dan malah lebih efektif dalam mendoktrin generasi muda untuk mendukung ideologi mereka dan kemudian ikut melakukan aksi teror.

Sebagai contoh kasus wanita muda yang menyerang Mabes Polri beberapa waktu lalu. Ia diduga terpapar ideologi ISIS dari internet. Kini, teroris juga menggunakan internet dalam melakukan pendanaan untuk mendukung aksi terorisme.

"Selama pandemi berlangsung terdapat kenaikan 101 persen transaksi keuangan mencurigakan," kata dia.

Saat ini, kata dia, ada kecenderungan perempuan menjadi teroris. Studi dari Soufan Center menyebut angka dukungan kepada teroris yang dilakukan kaum perempuan bertambah di wilayah Asia Tenggara.

Secara statistik pada 2015 ada tiga perempuan yang ditangkap karena kasus terorisme. Jumlah itu naik drastis kurun waktu 2016 hingga 2020 yang mencapai 40 orang.

Dalam tiga tahun terakhir Indonesia telah menyaksikan aksi terorisme yang dilakukan perempuan yakni di Surabaya, Sibolga dan baru-baru ini di Makassar, Sulawesi Selatan.

Selain itu, tantangan di masa pandemi COVID-19 ialah radikalisme serta adanya Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi teroris asing atau Foreign Terorist Fighters (FTF). Untuk FTF diperkirakan 600 hingga 700 WNI ditahan di sejumlah kamp di Suriah. Lebih miris lagi mayoritas dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.


Baca juga: Cegah terorisme, BNPT perkuat sinergi dengan tokoh masyarakat Merauke
Baca juga: Wahid Foundation: Perpres RAN PE komitmen negara cegah ekstremisme

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Vaksinasi juga sasar eks napiter dan napi perempuan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar