Peneliti: anak muda berperan dukung upaya kurangi emisi gas rumah kaca

Peneliti: anak muda berperan dukung upaya kurangi emisi gas rumah kaca

Peneliti di Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Amalia Nurlatifah. (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Amalia Nurlatifah mengatakan generasi muda berperan penting dalam mendukung upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dalam penanggulangan pemanasan global.

"Karena 20 tahun atau 30 tahun lagi yang memegang tonggak kepemimpinan itu ya generasi muda dan kita tentu ingin tempat yang lebih baik untuk anak cucu kita, mungkin nanti 20 tahun, 30 tahun ke depan, makanya usahanya harus dari sekarang," kata Amalia dalam webinar Aksi Generasi Muda untuk Keberlanjutan Lingkungan di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Peneliti: Rencana pemungutan pajak karbon harus libatkan dunia usaha

Amalia menuturkan yang harus dilakukan adalah mengurangi emisi dan menstabilkan tingkat gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer, dan beradaptasi dengan perubahan iklim yang sudah di depan mata.

"CO2 (Karbondioksida) ini kita keluarin sekarang hilangnya baru 50 tahun lagi, makanya pengendaliannya dari sekarang mengurangi emisi dan menstabilkan tingkat gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer," ujarnya.

Amalia menuturkan perubahan iklim terjadi karena adanya pemanasan global, dan pemanasan global terjadi karena meningkatnya suhu udara yang disebabkan meningkatnya emisi gas rumah kaca, antara lain yang disumbang dari penggunaan energi fosil, alih fungsi lahan, dan transportasi.

Dia menuturkan sumber emisi gas rumah kaca paling tinggi dari sektor energi, yakni sebesar 72 persen.

Perubahan iklim akan memberikan dampak, antara lain musim akan berubah seperti musim panen dan musim tanam akan memanjang, musim hujan dan musim panas akan memanjang, serta meningkatnya level permukaan air laut.

Kemudian, lebih banyak kekeringan dan gelombang panas akan terjadi. Hurricane, badai, siklon akan terjadi lebih sering dengan intensitas lebih kuat.

"Kalau dibiarkan terus perubahan akan terus terjadi, dampak akan terus meluas, cuaca ekstrem. Hurricane, badai, siklon itu akan lebih sering terjadi. Level permukaan air laut terus meningkat. Es di Arctic akan mencair," tuturnya.

Sementara itu, Koordinator Bidang Diseminasi Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lapan, Lilik Slamet Supriatin mengatakan diperlukan pengetahuan dan langkah konkrit yang dilakukan bersama untuk bisa meneruskan keberlanjutan lingkungan.

Baca juga: Emil Salim: Energi fosil tingkatkan produksi CO2 dan gas rumah kaca

Baca juga: Kepala BMKG sampaikan korelasi pemanasan global dengan kejadian siklon


Dia mengatakan generasi muda dapat mengeksplorasi berbagai upaya potensial dan gerakan bersama untuk menjaga lingkungan agar berkelanjutan, termasuk mengurangi pencemaran terhadap lingkungan, baik di darat, udara maupun laut.

"Generasi muda dari segi pengetahuan adalah generasi milenial yang melek akan komputer dan internet, sehingga tidak sebatas pada tingkat lokal, tapi mungkin sudah mendunia," ujarnya.

Generasi muda juga bisa menularkan sikap dan tindakan positif untuk merawat dan melestarikan lingkungan serta mengurangi emisi gas rumah kaca.

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Lapan ajak masyarakat amati langit gelap secara virtual

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar