Copiapo, Chile (ANTARA News) - Sejumlah penyelamat Chile pada Minggu memperkuat terowongan keluar untuk membebaskan 33 penambang yang akan membawa cerita pertahanan hidup mereka menuju puncaknya setelah dua bulan terperangkap di bawah tanah.

Para teknisi telah mengebor terowongan sedalam 625 meter pada untuk mengevakuasi para korban yang juga membuat ruangan dengan peledak bagi kapsul spesial bernama "Phoenix" yang akan mengangkat mereka satu persatu ke permukaan di pertambangan dekat, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Sejumlah penyelamat tengah memasukkan selongsong logam pada pertama kalinya sedalam 100 meter untuk memperkuat lubang tersebut, dan diharapkan selesai pada Senin pagi. Pemerintah menargetkan akan memulai penarikan pada Rabu dalam sebuah upaya penyelamatan yang sangat rumit dalam sejarah pertambangan.

"Jika segalanya berjalan lancar (hal ini akan berlangsung pada Selasa) dan jika tidak, mungkin pada Kamis," ujar Menteri Pertambangan Chile, Laurence Golborne, menambahkan, "Jika kami berkata pada Rabu, maka hal tersebut bergantung kepada kemajuan dan halangan saat proses penyelamatan."

Dirinya menjelaskan bahwa untuk mengeluarkan ke-33 penambang, dibutuhkan waktu hingga dua hari.

Beberapa perayaan telah dilakukan di seantero Chile pada Sabtu ketika mesin bor telah beroperasi selama 65 hari setelah runtuhnya tambang emas dan tembaga yang kecil pada lima Agustus di utara gurun Atacama.

Sejumlah pengemudi membunyikan klaksonnya di ibukota Chile, Santiago, dan masyarakat merayakannya dengan mengibarkan bendera di seluruh kota di negara itu yang masih memulihkan keadaan setelah gempa bumi dahsyat mengguncang pada 27 Februari lalu.

Setelah sekian lama berjaga, menunggu dan berdoa, akhirnya terdapat tawa, nyanyian dan tarian di sebuah markas darurat bernama "Camp Hope" yang didirkan oleh para keluarga dan sahabat para penambang di pintu terowongan pertambangan.

"Saya amat gembira," ujar seorang pasangan Claudio Yanez yang terperangkap, Cristina Nunez, menambahkan dirinya akan bisa bersama Claudio sebelum 21 Oktober saat ulang tahun putri mereka.

Presiden Chile, Sebastian Pinera, mengatakan akan berencana mengunjungi tambang itu pada Selasa.

Di antara para keluarga yang menanti, terdapat bayi yang baru berumur beberapa minggu yang bernama Esperanza, atau juga dipanggil "Hope", dengan ayahnya bernama Ariel Ticona yang terperangkap di dalam tanah. Istrinya menamakan anak perempuannya setelah mendapat masukan dari para keluarga di markas itu.

Ticona telah melihat kelahiran putrinya melalui video yang dikirimkan melalui lubang kecil yang berguna sebagai penyambung hidup selama musibah itu, dan dirinya amat merindukan dapat memeluk anaknya untuk pertama kali.

Sewaktu pertama kali mereka sampai di permukaan, mereka akan diperiksa kesehatannya seperti pemeriksaan pada astronot di sebuah rumah sakit darurat yang didirikan di pertambangan. Setelah itu mereka dapat menghabiskan waktu dengan keluarganya, sebelum diterbangkan dengan helikopter menuju kota Copiapo untuk perawatan lebih lanjut di rumah sakit lainnya.

Para penambang itu telah memecahkan rekor dunia untuk pertahanan hidup dalam waktu yang panjang di bawah tanah setelah kecelakaan di pertambangan.

Mereka diketahui dalam kondisi kesehatan yang baik, walaupun beberapa diantaranya mengalami infeksi kulit. Setelah lama berada di bawah tanah dalam keadaan terowongan yang lembab dan remang-remang, pandangan mata mereka membutuhkan waktu untuk menyesuaikan cahaya yang ada.

"Mereka mempraktekkan sikap yang sangat mengagumkan tentang solidaritas dan persahabatan yang erat," ujar Menteri Kesehatan Chile, Jaime Manalich, menambahkan bahwa para penambang ingin menjadi yang terakhir untuk masuk ke dalam tabung penyelamat daripada memperebutkan untuk jadi yang pertama.

Pemerintah Chile telah bekerja sama dengan ahli dari Badan Antariksa AS, NASA, untuk membantu menjaga kejiwaan dan fisik para penambang tetap sehat selama penyelamatan yang telah menggemparkan dunia dan mendapatkan beberapa pesan dukungan dari Paus Benediktus dan para bintang sepak bola Piala Dunia.
(ANT/A024)

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2010