Banda Aceh (ANTARA News) - Setelah melakukan mogok melayani pasien "non-emergency" sejak Senin (3/1), enam dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Yulidin Away Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan akhirnya meninggalkan rumah sakit itu karena pemerintah setempat dinilai kurang peduli sektor kesehatan.

Salah seorang dokter spesialis di RSUYA, Eko C Burnama yang dihubungi dari Banda Aceh, Senin, mengatakan mulai 10 Januari 2011, ia dan lima rekannya tidak lagi melayani pasien dan telah meninggalkan Kota Tapaktuan.

"Pelayanan medis di RSUYA saat ini seluruhnya ditangani dokter umum, kami berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan di masa yang akan datang lebih meningkatkan kepedulian terhadap sektor kesehatan," kata dokter spesialis THT, Eko C Burnama.

Selain Eko C Burnama, lima dokter spesialis lainnya yang telah meninggalkan Kota Tapaktuan, yakni dua dokter spesialis penyakit dalam, Yensuari dan Junaidi, spesialis kandungan, Sabri, spesialis anak, Dedy Geumelang Daulay serta dokter spesialis mata, Raja Chai

Sementara tiga dokter spesialis lainnya yakni patologi klinik, bedah, dan anastesi sebelumnya telah menyatakan tidak memperpanjang kontrak di rumah sakit milik pemerintah itu.

Menurutnya, keputusan meninggalkan rumah sakit tipe B itu bukan hanya disebabkan pengurangan insentif dari Rp17 juta/bulan menjadi Rp8 juta/bulan, namun aksi itu juga dipicu oleh rasa kecewa akibat minimnya anggaran yang dialokasi Pemerintah dalam APBK 2011.

"Pada tahun lalu anggaran untuk RSUYA Rp8 miliar, tahun 2011 dikurangi menjadi Rp4.9 miliar, bagaimana rekan-rekan tenaga medis dapat bekerja maksimal dengan dana yang sangat terbatas," katanya.

Eko juga mengatakan sejak menyatakan mogok melayani pasien "non- emergency" , ia dan rekan-rekannya tidak melihat itikad baik dari pimpinan daerah setempat, bahkan mereka tidak pernah diajak untuk mencari solusi.

Sorang warga Tapaktuan, Syarifuddin (50) mengatakan sejak dokter spesialis melakukan mogok, pelayanan kesehatan di RSUYA sangat memprihatinkan.

"Sebelumnya sekitar 100 hingga 300 warga setiap hari berobat di Rumah sakit itu, tapi dalam sepekan terakhit menurun drastis, rata-rata 50 hingga 100 orang/hari," katanya. (IRW/Y006/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011