Polisi bongkar pemalsuan data pribadi untuk pinjaman di Home Credit

Polisi bongkar pemalsuan data pribadi untuk pinjaman di Home Credit

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus (kiri) dan Kanit Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya Kompol Immanuel Lumbantobing memperlihatkan tersangka dan barang bukti penangkapan tersangka kasus pemalsuan data untuk belanja daring (online) dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Rabu (13/10). ANTARA/Fianda Sjofjan Rassat

Jakarta (ANTARA) -
Polda Metro Jaya membongkar kasus pemalsuan data pribadi yang digunakan untuk mengajukan pinjaman secara daring (online) di PT Home Credit Indonesia dan dipakai berbelanja di e-commerce Tokopedia.
 
"Kasus penipuan disertai pemalsuan, korbannya PT Home Credit Indonesia. Waktu kejadian Juni 2021," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di Jakarta, Rabu.
 
Modus operandi para pelaku adalah membeli data pribadi seseorang lengkap dengan KTP dan foto memegang KTP dari akun Telegram atas nama Raha.
 
"Dia beli harga Rp7,5 juta untuk status dan data pribadi berupa selfi sambil memegang KTP," ujar Yusri.
 
Setelah mendapat data pribadi tersebut, pelaku melakukan pembelanjaan secara daring di e-commerce Tokopedia dengan membeli emas dan telepon seluler (ponsel). Kedua tersangka membeli emas dan ponsel karena mudah dijual kembali.
 
Pelaku kemudian memilih sistem pembayaran melalui Home Kredit dan menggunakan data pribadi seseorang yang dibeli di akun telegram tersebut.

Baca juga: OJK DKI bagi tips agar UMKM terhindar pinjaman daring ilegal
Baca juga: OJK DKI dorong lembaga keuangan miliki keamanan siber terintegrasi
 
Pihak Home Credit kemudian melakukan penagihan kepada pemilik data KTP tersebut namun ditolak karena pemilik KTP merasa tidak pernah mengajukan permohonan pinjaman ke Home Credit.
 
"Ada 150 data fiktif yang ditemukan dan melakukan transaksi menggunakan Home Credit," ujarnya.
 
Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Polda langsung melakukan penyelidikan dan mendapati ada empat pelaku.

Dua pelaku yang berinisial UA dan SM telah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan dua tersangka lainnya masih dalam pengejaran.
 
Yusri mengatakan. polisi menangkap kedua tersangka di Jakarta. Namun Yusri belum menjelaskan lebih lanjut kapan keduanya ditangkap.
 
Polisi telah melakukan penahanan kepada kedua tersangka dengan persangkaan Pasal 30 juncto Pasal 46 atau Pasal 32 UU ITE serta Pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman penjara 12 tahun.
 
"Kami lapis lagi di UU Nomor 3 tentang TPPU dengan ancaman 20 tahun penjara," kata Yusri.

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Lokasi ganjil genap di Jakarta jadi 13 titik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar