BMKG: Periode gempa berulang tapi tidak bisa diprediksikan

BMKG: Periode gempa berulang tapi tidak bisa diprediksikan

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati memaparkan gempa susulan yang terjadi di Blitar, Jawa Timur dalam konferensi pers daring di Jakarta, Jumat (21/5/2021). ANTARA/Devi Nindy.

masalah perulangan gempa ini masih dalam taraf kajian
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang Ma'muri menegaskan bahwa berdasarkan hasil kajian, gemp​​​​​a bumi menunjukkan periode ulang namun tidak bisa dipastikan kapan tepatnya akan terjadi.

"Memang ada kajian tentang periode ulang bisa 100 tahunan, bisa 200 tahunan atau lebih. Tapi itu belum pernah ada yang tepat," katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat.

Pernyataan tersebut mengklarifikasi pemberitaan ANTARA sebelumnya terkait potensi gempa besar magnitudo 8,7 yang bisa berdampak tsunami di wilayah pesisir selatan Jawa. Menurut catatan sejarah, pada 1818 pernah terjadi tsunami di selatan Jawa Timur.

Jadi isu yang berkembang adanya siklus gempa 100 tahunan di selatan Jawa itu tidak benar dan BMKG tidak pernah memberikan pernyataan terkait hal tersebut.

Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Pusat Daryono menjelaskan, bahwa memang ada metode statistik untuk menghitung periode ulang gempa tetapi belum ada yang tepat menghasilkan informasi kapan gempa besar akan terjadi pada tahun berapa, bulan apa atau bahkan hingga tanggal berapa.

"Perulangan gempa besar atau return period itu dalam keyakinan saya, pasti terjadi, karena peristiwa gempa besar adalah siklus. Tetapi masih sulit untuk memastikan kapan terjadinya perulangan gempa besar itu," kata Daryono.

Baca juga: Teknologi belum mampu prediksi gempa secara akurat
Baca juga: Ahli prediksi Megathrust Mentawai akibatkan gempa 8,9 magnitudo
Baca juga: BMKG gandeng Jepang penelitian prediksi gempa bumi


Lebih lanjut dia menjelaskan, dengan metode statistik, para ahli dapat melakukan perhitungan periode ulang gempa (return period) tersebut, tetapi kenyataannya hitungan yang dilakukan belum ada yang sukses dengan tepat mampu menjawab kapan terjadi perulangan gempa terjadi, karena tingkat error hasil perhitungan yang dilakukan selama ini besar.

"Jadi masalah perulangan gempa ini masih dalam taraf kajian yang ada dalam riset atau perkuliahan mahasiswa jurusan gempa (seismologi). Operasionalnya belum ada untuk prediksi gempa," katanya.

Baca juga: BNPB: Potensi gempa berskala besar Sulbar sudah diingatkan pada 2019
Baca juga: BMKG : Tak ada prediksi gempa dan tsunami di Sumba
Baca juga: BMKG imbau jangan percayai prediksi gempa M 9,0 pascagempa Banten

Pewarta: Desi Purnamawati
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BMKG: Sinyal perubahan iklim akibat ulah manusia semakin nyata

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar