Gubernur BI fokus pemulihan bersama bagi seluruh negara

Gubernur BI fokus pemulihan bersama bagi seluruh negara

Gedung Bank Indonesia (BI). ANTARA/bi.go.id/pri.

Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia Perry Wajiyo menekankan pemulihan yang merata dan secara bersama-sama terhadap seluruh negara dari dampak pandemi COVID-19.

Perry mengatakan hal itu dapat diraih melalui pelaksanaan exit strategy yang well calibrated, well planned, dan well communicated.

Baca juga: BI perkirakan terjadi inflasi 0,08 persen pada Oktober 2021

“Ini untuk memastikan seluruh negara dapat pulih secara bersama-sama,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Penekanan ini dibahas dalam rangkaian Pertemuan Tahunan International Monetary Fund dan World Bank (IMF-World Bank) termasuk di dalamnya pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara G20.

Sejauh ini, pemulihan global terus berlanjut meskipun masih terdapat kesenjangan antar negara akibat perbedaan akses terhadap vaksin dan ruang untuk dukungan kebijakan.

Secara global pemulihan menghadapi berbagai faktor risiko terutama kekhawatiran cepatnya penyebaran varian Delta dan munculnya varian virus baru yang lebih agresif.

Kemudian perubahan iklim dan reformasi digital juga muncul sebagai tantangan besar secara global.

Berbagai faktor tersebut menimbulkan ketidakpastian terhadap outlook perekonomian termasuk IMF yang memproyeksikan global tumbuh 5,9 persen pada 2021 dan 4,9 persen pada 2022.

Baca juga: BI: Utang luar negeri Indonesia pada Agustus 2021 tetap terkendali

Revisi ke bawah pertumbuhan 2021 mencerminkan penurunan pertumbuhan di negara maju karena adanya disrupsi pasokan dan di negara low-income developing karena memburuknya dinamika pandemi.

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan akan ditopang oleh menguatnya prospek jangka pendek negara eksportir komoditas dari kelompok negara berkembang.

Oleh sebab itu dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menegaskan pentingnya upaya global untuk mengatasi pandemi dan melanjutkan reformasi struktural.

“Ini guna mendorong pemulihan ekonomi yang lebih resilien, berkelanjutan dan inklusif,” ujarnya.

Tak hanya itu, menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta kenaikan inflasi di negara maju yang berpotensi menimbulkan efek rambatan kepada negara berkembang juga harus diperhatikan.

Untuk itu, diperlukan koordinasi dan komunikasi kebijakan pada tataran global untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap perkembangan dan kebijakan yang diimplementasikan.

Terakhir, Dody menyampaikan pentingnya melanjutkan upaya bersama dalam meningkatkan efisiensi cross border payment dan melanjutkan diskusi mengenai dimensi makrofinansial dan aspek interoperability dari Central Bank Digital Currency.

Indonesia juga menyampaikan dukungan terhadap program IMF guna membantu negara miskin dan rentan dalam mengatasi pandemi dan mengatasi permasalahan ekonomi yang dihadapi.

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BI proyeksi transaksi bank digital tembus Rp48 ribu triliun di 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar