Artikel

Menilik kemakbulan PON XX pererat persaudaraan anak bangsa

Oleh Muhammad Zulfikar

Menilik kemakbulan PON XX pererat persaudaraan anak bangsa

Dua pemain Rugby 7S Papua saling menguatkan usai timnya menang melawan kontingen DKI Jakarta pada final cabang olahraga Rugby 7S PON XX. ANTARA/Muhammad Zulfikar

Semua orang di Tanah Air menyayangi dan mengasihi Papua.
Jakarta (ANTARA) - Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang diselenggarakan di Bumi Cenderawasih memang telah ditutup beberapa hari silam. Tepatnya secara resmi pada tanggal 15 Oktober 2021, Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin mengambil andil untuk menutupnya.

Sejatinya event olahraga terbesar di Tanah Air tersebut memang berakhir untuk periode kali ini. Namun, tidak begitu dengan pesan moral di balik kesuksesan penyelenggaraannya. Tentunya hal itu jauh lebih berharga dibandingkan ajang perebutan medali, yakni makin kuat dan eratnya rasa persaudaraan antaranak bangsa.

Bagi masyarakat Papua, penyelenggaraan PON Ke-20 bukan saja perkara dipercaya sebagai tuan rumah, melainkan telah menunjukkan bahwa Tanah Papua merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebanyak 33 kontingen dari 33 provinsi dengan total 6.116 atlet datang beramai-ramai mengunjungi provinsi yang terletak di ujung timur Indonesia tersebut.

Kedatangan mereka tersebar di empat klaster penyelenggaraan PON XX, yakni Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Kabupaten Mimika, dan Kabupaten Merauke. Barangkali perlu ditegaskan bahwa bagi mereka momentum tersebut bukan sekadar untuk memperebutkan 681 medali emas, 681 perak, dan 877 medali perunggu saja.

Jauh dari itu, ribuan atlet dan ofisial dari berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya yang berbeda-beda itu sengaja datang ke Papua untuk merekatkan dan menguatkan rasa kebangsaan.

Selama ini, Tanah Papua memang tidak pernah lepas dari berbagai terpaan isu miring. Sebut saja mulai dari dugaan pelanggaran hak asasi manusia, sengketa tanah adat, kesenjangan pembangunan infrastruktur, hingga upaya melepaskan diri dari NKRI. Bahkan, hingga kini masih berlangsung dan mencuat dari timur sana.

Meski demikian, sama-sama diketahui pula bahwa pemerintah negeri ini terus berupaya dengan gigih bahwa Papua merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Indonesia.

Jika menengok 59 tahun ke belakang, presiden pertama RI Ir. Soekarno pernah berucap hendak merebut kembali Irian Barat (sekarang Provinsi Papua Barat) ke pangkuan Indonesia dari kolonialisme Belanda.

Artinya, jauh hari sebelum PON XX digelar, semua anak bangsa rela berdarah-darah memperjuangkan Tanah Papua agar tidak lepas ke tangan penjajah. Kini, setelah PON pertama kali dilaksanakan di Surakarta pada tahun 1948, untuk pertama kalinya Papua dipercaya menjadi tuan rumah acara multievent 4 tahunan tersebut.

Pelaksanaan kegiatan PON XX pun pada hakikatnya tidak main-main. Pemerintah rela menggelontorkan dana hingga Rp10,43 triliun yang dianggarkan sejak 2018 melalui sejumlah mekanisme. Dengan dana sebesar itu, pemerintah membangun 45 venue bertaraf nasional hingga internasional serta fasilitas penunjang lainnya.

Semua Sayang Papua

Layaknya kasih sayang seorang ibu yang tiada berbeda sedikit pun kepada si sulung dan si bungsu, begitu pula dengan Papua. Semua orang di Tanah Air menyayangi dan mengasihinya. Tidak hanya berbicara tentang orang-orangnya, tetapi juga daratan, lautan, hingga udara yang berembus diantaranya.

Perbedaan warna kulit, rambut yang keriting, dan bahasa bukan menjadi sebuah jurang pemisah bagi saudara-saudara di Tanah Air.

Sebagaimana disampaikan oleh atlet silat Jawa Barat Hanifan Yudani Kusumah, selain kepada kedua orang tua dan masyarakat Jawa Barat, kemenangan dan medali emas yang diraihnya di PON Ke-20 juga dipersembahkan kepada masyarakat Papua.

Nama Hanifan Yudani Kusumah bagi sebagian orang mungkin tidak asing lagi. Ialah atlet silat sekaligus peraih emas Asian Games 2018. Ia tidak hanya jago di atas gelanggang, tetapi juga memiliki kepribadian luar biasa.
Atlet silat Papua Tiel Taraipos menggendong Hanifan Yudani Kusumah pesilat Jawa Barat usai laga final cabang olahraga pencak silat PON XX. ANTARA/Muhammad Zulfikar


Pada final cabang olahraga pencak silat di Gedung Olahraga (GOR) Toware Kabupaten Jayapura, pria berdarah sunda itu berhadapan langsung dengan atlet tuan rumah Tiel Taraipos.

Laga tersebut memang dinantikan oleh banyak orang, terutama tuan rumah. Namun, agaknya Hanifan bukan lawan sepadan bagi Tiel yang harus mengakui keunggulan lawannya.

Yang menarik dan menjadi topik utama dari pertandingan mereka bukanlah menyoal Hanifan yang berhasil merebut medali emas, melainkan sportivitas dan persaudaraan sesama anak bangsa yang mereka pertontonkan di penghujung. Hal itu betul-betul terasa begitu membanggakan.

Usai ketua pertandingan menyatakan kemenangan Hanifan, pemuda kelahiran 25 Oktober 1997 itu langsung memeluk Tiel Taraipos. Ia juga menggendong pesilat andalan tuan rumah tersebut ke sudut merah untuk memberikan hormat kepada pelatih Jawa Barat.

Tak lama berselang, giliran Tiel Taraipos pula yang menggendong Hanifan menuju sudut merah untuk menyalami serta memberikan hormat kepada pelatih Papua.

Tentu saja pemandangan tersebut disambut tepuk tangan dan riuh penonton yang bersukacita atas sportivitas yang diperlihatkan oleh kedua pesilat itu.

Sorak-sorai terdengar jelas mengapresiasi sikap mereka. Keduanya dinilai menempatkan persahabatan dan sportivitas di atas segalanya.

Kemajuan Papua

Presiden Jokowi pada pembukaan PON XX mengatakan bahwa penyelenggaraan pesta olahraga terbesar di Indonesia itu merupakan bukti dari kemajuan Papua.

Pesta olahraga tersebut juga menunjukkan kesiapan infrastruktur di Bumi Cenderawasih dalam menyelenggarakan acara berskala nasional.

"PON XX punya makna besar bagi masyarakat Indonesia, PON ini adalah panggung persatuan," kata Presiden Joko Widodo.

Menurut Presiden, PON XX tidak hanya sekadar persoalan siapa yang terbaik di gelanggang olahraga. Namun, lebih dari itu, PON Ke-20 adalah panggung besar untuk persaudaraan, kesetaraan, dan panggung keadilan.

Dengan demikian semua anak bangsa dari Sabang sampai Merauke akan maju bersama dalam satu bingkai NKRI.

Eks Wali Kota Surakarta tersebut berpendapat bahwa Stadion Lukas Enembe sebagai lokasi pembukaan dan penutupan PON XX tidak hanya menjadi satu-satunya simbol kemajuan Papua.

Akan tetapi, konektivitas laut, udara, dan darat serta pengembangan sumber daya manusia adalah gambaran Tanah Papua makin maju dari waktu ke waktu.

Melalui PON XX, Presiden berharap akan lahir atlet-atlet hebat dari berbagai daerah, terutama dari Provinsi Papua.

Tidak hanya soal olahraga, Presiden juga berharap kemajuan Papua harus dibarengi dengan pelestarian serta kemajuan atas musik-musik yang ada di daerah tersebut.

PON XX yang dibuka secara resmi pada tanggal 2 Oktober dan ditutup pada tanggal 15 Oktober 2021 telah membuktikan bahwa anak-anak bangsa tidak sekadar mengejar prestasi di atas gelanggang olahraga.

Di sana terdapat semangat persatuan, rasa persaudaraan, sportivitas, kesetaraan, hingga rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang sejatinya benar-benar ditempatkan di atas segalanya.

Baca juga: PB PON XX Papua apresiasi lancarnya pelaksanaan iven olahraga nasional

Baca juga: Wapres: Papua tidak hanya kaya, tetapi juga penuh talenta

Oleh Muhammad Zulfikar
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Bagikan bonus ke atlet PON XX, Gubernur Papua berharap memotivasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar