Sleman (ANTARA News) - Banjir lahar dingin Sungai Opak di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (21/2) malam, mengakibatkan tanggul di Desa Argomulyo jebol dan membentuk aliran sungai di pekarangan warga, dan diduga alur sungai purba.

"Banjir lahar dingin di Sungai Opak itu selain mengakibatkan sebuah tanggul jebol, juga menimbun satu rumah warga di Dusun Kliwang, Argomulyo, Cangkringan, serta beberapa rumah terancam karena dekat dengan aliran baru Sungai Opak," kata Camat Cangkringan Samsul Bakri, Selasa.

Menurut dia, jebolnya tanggul tersebut juga menyebabkan aliran sungai baru itu melalui pekarangan warga serta menghanyutkan sejumlah pohon. Sedangkan aliran Sungai Opak yang sebenarnya justru tertutup pasir.

"Banyak batu `mampir` di rumah yang sebelumnya berjarak kurang lebih lima meter dari Sungai Opak. Kini aliran baru persis berada di samping rumah warga," katanya.

Ia mengatakan sampai saat ini belum ada alat berat untuk menormalisasi aliran Sungai Opak di Dusun Kliwang karena ada aliran baru melalui pekarangan warga. Masalah ini harus dibicarakan dulu dengan pemilik pekarangan.

"Saya bersama Pemerintah Kabupaten Sleman akan membicarakan terlebih dulu, karena untuk normalisasi aliran melewati pekarangan warga," katanya.

Salah seorang warga Kliwang Suroso mengatakan kejadian itu sekitar pukul 17.30 WIB. Jebolnya tanggul pasir karena kondisi sungai tidak lurus, dan pembatas semakin menipis. Akibatnya, saat terjadi banjir besar, tidak kuat menahan laju air yang bercampur material berupa pasir dan batu.

"Tanggul yang jebol berada di tikungan aliran sungai, dan karena sudah lama tidak ditambah pasir, maka tanggul jebol sehingga menyebabkan aliran baru melalui pekarangan warga serta menimbun sebuah rumah," katanya.

Warga Dusun Panggung, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Maryanto memperkirakan saat ini aliran Sungai Opak kembali ke zaman purba, itu terlihat dari aliran baru yang terbentuk, dan terdapat batu-batu yang tertimbun di dasarnya.

"Konon pekarangan milik warga tersebut dulu merupakan daerah aliran sungai (DAS) Sungai Opak. Karena sudah lama tidak dialiri air, kemudian ditanami pohon oleh warga sampai sekarang. Mungkin ini Sungai Opak yang sebenarnya, karena terlihat di aliran baru itu banyak batu tertimbun di dasar sungai," katanya.

(V001/M008/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011