Surabaya (ANTARA News) - Iin (5) putri pasangan jamaah haji kloter 6 asal Surabaya, Ghufron bin Munadji (31) dan Jamaati binti Lukman (26), hingga Sabtu siang belum tahu bila kedua orangtuanya wafat menjadi korban reruntuhan Hotel Ar Rayahin di Jl.Gazzaz, kawasan Syib Amir, Makkah (5/1). "Keponakan saya sampai sekarang memang belum tahu kalau bapak dan ibunya meninggal dunia di Makkah, karena dia memang masih berusia 5 tahun, tapi keluarga kami pasti akan memberitahu secara perlahan pada suatu saat nanti," kata Ny.Nia, adik ipar Ghufron-Jamaati, kepada ANTARA di sela-sela menerima tamu di rumah duka. Rumah duka beralamat di Jalan Demak Jaya IV No.8, Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya. Mereka tergabung dalam kloter 6 Surabaya, yang menempati pemondokan di kawasan Ja`fariyah, Maktab 8, Makkah, namun baru diketahui meninggal dunia sehari sesudahnya setelah petugas haji menemukan di Rumah Sakit Mu`aisim. Menurut Ny.Nia, putri satu-satunya pasangan Ghufron-Jamaati selama ditinggal pergi haji dititipkan neneknya, karena itu kemungkinan dia akan seterusnya diasuh neneknya. "Mungkin juga neneknya yang akan memberitahu jika kedua orangtuanya sudah meninggal dunia, tapi kami belum tahu kapan," katanya. Ia mengaku beberapa saat setelah peristiwa hotel runtuh, sempat mendapat kabar dari adiknya yang juga menunaikan ibadah haji bersama kedua korban yakni Kadir, namun kabar yang diterima masih menceritakan bahwa kedua saudaranya itu hilang dan belum ditemukan. "Kepastian kabar bahwa kedua kakak saya itu menjadi salah satu korban tertimpa reruntuhan hotel itu dan meninggal dunia, datang dari adik saya Jumat (6/1) malam sekitar pukul 24.00 WIB. Padahal selama ini kakak saya itu sering kontak ke Surabaya untuk sekedar memberi kabar, bahkan 2-3 hari sebelum kejadian juga telepon ke rumah," katanya, memotong pembicaraan untuk menerima tamu yang menyampaikan ucapan bela sungkawa. Secara terpisah, Sekretaris Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya, H.Saiful Islam, MM menyatakan dirinya hingga kini belum mendapat kabar resmi dari Jakarta (Depag RI) atau petugas haji asal Indonesia di Saudi Arabia, tentang dua jamaah haji asal kloter 6/Surabaya yang wafat menjadi korban runtuhnya hotel di Mekkah. "Surat resmi tentang kabar itu memang belum ada, tapi saya sudah tahu dari www.informasihaji.com milik Depag RI. Yang jelas, kawasan Ja`fariyah memang berjarak 1,5 kilometer dari Masjidil Haram dan untuk menuju ke sana harus melewati kawasan itu. Jalan lain memang ada, tapi yang paling dekat harus lewat pasar seng di Ja`fariyah itu," katanya. Ia menjelaskan, dirinya sudah melaporkan kejadian itu kepada Kakanwil Depag Jatim, Drs.H.Roziqi, MM, yang saat ini sedang berada di Bali mengikuti Dialog Antar Agama di Bali. "Beliau memerintahkan saya membuat laporan tertulis kepada Gubernur Jatim H.Imam Utomo untuk mengambil langkah-langkah internal," katanya. Ditanya langkah internal yang diambil, ia mengaku belum tahu, karena hal itu bergantung kepada Gubernur dan Kakanwil Depag Jatim. "Setahu saya, kalau dulu untuk jamaah haji yang meninggal dunia akibat insiden saat melempar jumroh pada tahun lalu, maka keluarganya akan mendapatkan jatah tiga haji undangan (haji gratis) dari pemerintah," katanya. Namun, katanya, langkah internal untuk korban reruntuhan pada 5 Januari 2006 itu hingga kini belum diketahui. "Saya belum tahu, apakah langkah internal itu seperti dulu atau berbeda, petugas sekarang masih sibuk mengurusi puncak haji pada 9 Januari mendatang. Yang jelas, bantuan pasti ada, apa pun bentuknya," ujarnya. Ketika dikabari bahwa putri pasangan Ghurfon-Jamaati masih balita dan mungkin lebih membutuhkan bantuan biaya pendidikan, ia mengatakan hal itu bukan hak-nya, namun dapat saja menjadi salah satu bahan pertimbangan. Hingga kini, jumlah jamaah haji yang wafat di Arab Saudi mencapai 94 orang, sedang kabar jamaah haji asal Indonesia agak terlambat diketahui, sebab rumah sakit yang menampung jenazah korban asal Indonesia itu bukan rumah sakit rujukan, sebab rumah sakit yang selama ini selalu menjadi rujukan untuk memperoleh informasi adalah RS Al Jiyad, RS An Nur dan RS Al Syisya.(*)

Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2006