Wartawan Ujung Tombak Pencerahan Masyarakat

Wartawan Ujung Tombak Pencerahan Masyarakat

Bachtiar Aly. (ANTARA)

Palu  (ANTARA News) - Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (Fisip UI), Prof DR Bachtiar Aly, di Palu, Sulawesi Tengah, mengatakan bahwa wartawan juga bagian dari ujung tombak pencerahan terhadap masyarakat, sehingga dituntut memiliki wawasan di atas rata-rata kebanyakan orang.

"Pencerahan itu tidak saja datang dari guru dan dosen tapi juga wartawan," kata Bachtiar Aly, dalam workshop Peliputan Pers di Wilayah Konflik yang diadakan Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) bersama Kedutaan Besar Kerajaan Norwegia di Palu, Rabu.

Mantan Duta Besar RI di Kairo, Mesir, itu mengatakan bahwa setiap meliput konflik wartawan harus mengetahui informasi secara utuh dari semua semua pihak dan mengetahui posisi lawan dan kawan.

"Wartawan harus tahu dia berhadapan dengan siapa," kata penasehat ahli Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) tersebut.

Bachtiar, yang anggota Dewan Pers periode 2000-2003 itu mengakui sulitnya wartawan menembus narasumber yang terkait langsung dengan konflik apalagi konflik yang melibatkan dua negara. Oleh karena itu, ia menilai, seorang wartawan juga perlu memiliki pemdekatan pribadi (personal approach) sehingga bisa memahami siapa yang akan dihadapinya.

Seorang wartawan kata Bachtiar harus menulis secara jujur dan tidak menjustifikasi sesuatu yang belum tentu salah.

Menurut Bachtiar, jurnalisme damai tetap dibutuhkan sebagai solusi damai dari para pihak yang bertikai. Bukan justru sebaliknya, menyiram bensin di atas api. Wartawan juga bertanggungjawab dalam pemberitaan, sebab bisa saja beritanya memperuncing masalah.

"Orang mau duduk bersama saja itu sudah baik. Kita sudah bersyukur karena mereka sudah mau saling berbagi," katanya.

Posisi wartawan dalam meliput di daerah konflik kadang dilematis, tetapi ia meminta, agar wartawan tidak khawatir jika sudah memiliki kemampuan wawasan. Ia mengingatkan kepada wartawan bahwa profesi wartawan bukan tempat transit karena tidak lolos menjadi polisi atau pegawai negeri sehingga menjadi wartwan.

"Wartawan itu adalah panggilan jiwa," katanya.

Dia mengatakan, wartawan juga harus punya empati yang tinggi untuk saling membantu atau memberikan dorongan terhadap para pihak untuk menyelesaikan konflik yang terjadi.
(T.A055)

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar