Surabaya (ANTARA News) - Tim Mahasiswa Pecinta Alam (Wanala) Universitas Airlangga Surabaya yang tergabung dalam Airlangga-Semen Gresik Elbrus Expedition (ASGEE) 2011, Sabtu, berhasil mengumandangkan Indonesia Raya di Puncak Gunung Elbrus (5.642 mdpl).

"Alhamdulillah, puji syukur, tim Wanala Universitas Airlangga (Unair) akhirnya sampai di puncak tertinggi di Benua Eropa itu dengan mengumandangkan Indonesia Raya dan menancapkan bendera Merah Putih di sana," kata Kabid Humas dan Publikasi ASGEE 2011, Bagus Setiawan.

Bahkan, katanya, ketiga pendaki dari Wanala Unair tersebut melangsungkan upacara Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), kendati mereka tidak mampu merayakannya sesuai skenario pada 20 Mei atau selisih sehari dari rencana.

"Tidak mudah menggapai puncak dengan ketinggian 5.642 meter dari permukaan laut (mdpl) itu, terbukti kawan-kawan pegiat alam bebas dari Unair harus menunggu hingga hari ini (21/5) untuk melakukan pendakian ke puncak gunung itu. Beberapa hari terakhir cuaca di Elbrus memang kurang bersahabat," katanya.

Sukses tim Wanala Unair di Hari Kebangkitan Nasional tahun ini mempunyai kesan tersendiri bagi para pegiat alam bebas, katanya, karena setelah Wanadri dari Bandung berhasil menggapai puncak Denali di Alaska, kemudian tim Mahitala Unpar yang menaklukkan Everest Nepal, maka tim Wanala Unair akhirnya menyusul.

Secara terpisah, Direktur Kemahasiswaan Unair Prof Imam Mustofa juga mengaku dirinya merasa cemas dan selalu memantau pergerakan putra-putranya tersebut.

"Saya selalu mendapatkan `update` informasi dari tim base camp dan itu terkadang tidak membuat saya bisa selalu tenang. Alhamdulillah, hari ini putra putra kebanggaan Unair dan Jawa Timur telah melaksanakan tugas yang sangat mulia. Itu membuat kami semua di Tanah Air sangat bangga," katanya.

Menurut Bagus Setiawan, informasi dari tim pendaki melalui telepon satelit bahwa mereka telah berada di puncak barat gunung yang terkenal mempunyai cuaca yang labil itu memang membuat ketegangan tim ASGEE di Base Camp Surabaya pun mencair.

"Rekan-rekan telah melakukan persiapan menuju puncak dengan sangat hati-hati karena mereka tidak mau melakukan kesalahan sekecil apapun sehingga dapat membahayakan keselamatan," katanya.

Selain cuaca yang labil, tantangan lain dari tim Wanala adalah medan yang berat karena jalur pendakian yang semula relatif lebih mudah yaitu jalur selatan akhirnya dialihkan ke jalur utara di detik-detik terakhir sebelum pendakian dimulai.

Hal itu, katanya, berimbas terhadap perjalanan karena di jalur utara sepenuhnya ditempuh dengan jalan kaki. Gunung yang sepanjang tahun tertutup oleh salju ini beriklim subtropik.

"Dengan iklim itu, cuaca bisa cepat berubah dari cerah menjadi berkabut, bahkan bisa menimbulkan badai yang banyak memakan banyak korban pendaki," katanya.

Temperatur di kaki gunung hanya berkisar 21 derajat Celcius, tapi di puncak gunung suhu bisa mencapai minus 20 derajat Celcius. Tak heran bila kehidupan flora dan faunanya hanya terlihat hanya sampai pada ketinggian 3.600 meter dan jenisnya pun terbatas, seperti burung gagak.

Tiga mahasiswa Unair yang berangkat ke Rusia adalah Evandra (23), Yasak (22), dan Miftahul Agusta (21). Misi Elbrus ini merupakan misi ketiga dari "The Seven Summit" Wanala Unair.

Misi tahun 2013 dipersiapkan untuk mendaki puncak Aconcaqua (6459 mdpl) di Amerika Selatan, tahun 2016 ke Puncak McKinley (6.194 mdpl) di Amerika Utara, dan tahun 2019 ke puncak Vinson Massif (4.808 mdpl) di Antartika.

Target "pamungkas" Wanala Unair adalah menaklukkan gunung tertinggi dunia, Mount Everest (8.850 mdpl) di pegunungan Himalaya, India tahun 2022.(*)

(T.E011/Z002)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011