Jayapura (ANTARA News) - Salah satu permasalahan yang menonjol berkaitan dengan kegiatan akademik di perguruan tinggi di Papua adalah sikap para mahasiswa yang cenderung santai atau tidak serius dalam belajar. Kondisi ini menuntut para dosen harus mengubah dan menerapkan pola perkuliahan baik di dalam kelas maupun di luar kelas agar permasalahan ini dapat diatasi dengan baik. Hal ini diakui oleh Pembantu Rektor (PR) I Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Ir.Muid Fabanyo, MMT kepada ANTARA di Jayapura, Selasa (27/1). "Mahasiswa di Papua kebanyakan bersikap santai menghadapi perkuliahan sampai-sampai dosen yang justru harus pro aktif untuk menekan mereka untuk kumpulkan tugas, ikuti ujian dan lain-lain," katanya. Menurut Muid, pola pikir dan sikap yang terbangun di kalangan mahasiswa di Papua yang berada di bagian wilayah timur Indonesia memang jauh berbeda dengan mahasiswa di bagian barat Indonesia. Selain malas, mahasiswa di Papua pada umumnya bersikap inferior atau rendah diri dan kurang termotivasi untuk lebih giat dalam belajar. Hal ini mempengaruhi pola belajar yang mereka lakukan di kampus. Oleh karena itu Muid menegaskan bahwa para dosen harus menerapkan pola belajar yang berbeda dari biasanya. Muid menjelaskan bahwa ada beberapa pola yang bisa dilakukan untuk sedikit demi sedikit mengubah sikap dan mental para mahasiswa di Papua. Pertama adalah pola belajar bermain. Dengan metode belajar seperti ini mahasiswa yang santai tetap dapat dibimbing untuk terus belajar. Selain itu, metode ini juga dapat membangun suasana kekeluargaan di tengah perkuliahan. "Suasana familiar ini harus kita terapkan, karena pendekatan inilah yang efektif untuk mendekatkan dosen dengan mahasiswa. Walau terbangun hubungan yang dekat, mahasiswa masih tetap mempertahankan penghormatan kepada dosennya," kata Muid yang juga pengajar di Jurusan Teknik Elektro. Pola yang ke dua adalah pola interaktif dengan membuka ruang diskusi sebesar-besarnya dengan mahasiswa. "Dengan cara seperti ini kita dapat membangun rasa percaya diri mahasiswa untuk berani mengutarakan pendapat tentang suatu hal. Akhirnya sikap minder yang ada dalam diri mereka dapat berubah perlahan-lahan menjadi lebih berani untuk tampil," kata Muid. Berikutnya adalah menerapkan pola belajar lapangan. "Artinya kita mengajak mahasiswa untuk langsung terjun ke lapangan aplikasi ilmu sehingga mereka mendapat gambaran yang jelas tentang teori yang didapatkan di perkuliahan," kata Muid. Cara ini sangat efektif untuk menjabarkan teori perkuliahan, selain itu juga membuat mahasiswa untuk lebih memacu dirinya dalam belajar. Muid mengakui bahwa belum banyak dosen yang menerapkan pola belajar seperti demikian. "Dosen juga harus meng-up-grade diri mereka agar tidak hanya menjalankan pola klasikal yang cenderung monoton dan membosankan. Selain itu para dosen juga harus bisa melihat mahasiswanya sebagai subyek perkuliahan dari berbagai sudut pandang. Sehingga terbentuk saling pengertian," ujarnya. Dia yakin bahwa jika pola-pola belajar seperti ini diterapkan maka akan ada perubahan yang signifikan dalam diri mahasiswa sehingga maksud dan tujuan perkuliahan dapat tercapai.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009