Surabaya (ANTARA) - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur mencatat saat ini masih terdapat sebanyak 8.041 calon jamaah umrah yang menunggu keberangkatan ke Tanah Suci.

"Di Jatim yang masuk daftar jumlahnya 8.041 orang," ujar Kepala Kanwil Kemenag Jatim Husnul Maram usai mengikuti rapat dengan Gubernur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi di Surabaya, Minggu.

Baca juga: Kemenag upayakan perluas pintu keberangkatan ibadah umrah

Baca juga: Amphuri apresiasi aturan karantina satu hari bagi jamaah umrah


Menurut dia, selama masa pandemi COVID-19 yang sudah berjalan dua tahun, total sekitar 9.000-an calon jamaah umrah yang masuk daftar tunggu.

Namun, kata dia, sekitar 1.000-an orang jamaah sudah diberangkatkan melalui Bandara Soekarno-Hatta dan sudah melakukan ibadah umrah.

Husnul Maram berterima kasih kepada Gubernur Khofifah dan pihak terkait lainnya yang bakal mempersilakan jamaah umrah berangkat dari Bandara Internasional Juanda Surabaya di Sidoarjo.

Keberangkatan calon jamaah umrah sebelumnya sudah dibahas pada pertemuan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhur Binsar Pandjaitan dengan Gubernur Jatim Khofifah di Surabaya, Jumat (11/3).

Pada kesempatan tersebut, Menko Marves dan pejabat Forkopimda Jatim juga membahas terkait pelaksanaan teknis pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).

Menurut Luhut, para pelaku perjalanan luar negeri yang baru tiba di Juanda masih harus melakukan tes usap PCR di bandara guna memastikan kondisi kesehatan yang bersangkutan.

Apabila negatif,  diperbolehkan kembali ke daerah asal. Namun, jika positif diharuskan menjalani masa karantina.

Baca juga: Menag: Karantina di Asrama Haji Jakarta ringankan pembiayaan jamaah

"Karantina sudah disiapkan di hotel atau Asrama Haji Surabaya," kata Koordinator PPKM Jawa-Bali itu.

Menko Marves juga bercerita bahwa dirinya belum lama ini melakukan perjalanan ke Arab Saudi dan menyebut sudah tak ada aturan tes usap.

"Tapi, yang datang dari luar negeri saat dicek masih ada yang positif. Makanya kita kan tidak mau juga menyebarkan, sehingga harus dikarantina sebentar," katanya.

Pewarta: Fiqih Arfani
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2022